Malam hari jadi: setelah tirai ditutup

【Fiksi dewasa. Semua dewasa.】

Gorden berhenti sebelum menutup lampu, dan teh hari jadi di meja masih hanya teh.

Ia berusia tiga puluh tujuh. Aku berusia tiga puluh sembilan. Kami sudah menikah dua belas tahun. Malam itu rumah tidak menampung orang lain. Ia menyisakan celah dengan sengaja. Aku takut ruangan tanpa cahaya, katanya. Biarkan lampu menyala.

Dua cangkir diletakkan saling berhadapan. Jangan memakai minuman sebagai alasan malam ini, katanya. Aku tidak minum. Kamu juga jangan.

Aku tidak minum, kataku. Aku sadar.

Sesudah dua belas tahun, ada malam-malam saat kami melewatkan pertanyaan. Bukan hari ini, katanya. Aku ingin kamu tinggal, di bawah lampu ini. Bukan karena kalender mencetak hari jadi. Kalender tidak bisa mengangguk untukku. Jika kamu tidak ingin ini, kita minum teh dan mencuci cangkir. Tidak ada hukuman. Jika salah satu bilang berhenti, kita berhenti bersama. Kamu yakin?

Aku ingin tinggal, kataku. Bukan karena hari ini hari jadi. Karena aku ingin. Kamu boleh bilang tidak. Ketika kamu ingin berhenti, kita berhenti bersama. Aku bersedia.

Ia mengangguk dan memegang tanganku di bawah lampu. Boleh? Boleh. Dan di sini? Boleh. Jika aku bilang kita menunggu sampai besok, kamu berhenti? Aku berhenti. Baru kemudian dahinya bersandar di bahuku.

Kami tidak mematikan lampu. Di celah, lampu jalan seperti sungai tipis. Boleh aku menciummu? Boleh. Tanganku boleh di pinggangmu? Boleh. Beberapa saat kemudian ia bilang berhenti. Aku berhenti seketika. Ia tidak kesal. Berhenti yang bersih membuatku percaya pada ya berikutnya, katanya.

Yang mengikuti tinggal di ruangan ini. Lampu tetap pada terang yang sama. Ujung telinganya merah, dan kalimatnya tetap jelas. Ketika selesai ia menyelipkan rambut ke belakang telinga dan kembali tampak seperti perempuan yang menggoreng telur pada pagi hari jadi. Jika tahun depan kita masih ingin ini, katanya, kita bertanya lagi. Ya tahun ini tidak memperpanjang dirinya sendiri.

Baik, kataku.

Pagi hari teh masih di sana. Gorden ia tarik separuh dan ia bertanya apakah aku takut mengubah malam tadi menjadi kebiasaan. Aku bilang ya. Bagus, katanya. Takut tidak sama dengan berhenti. Jika kamu perlu berhenti, kamu bisa mengatakannya sekarang.

Bukan hari ini, kataku. Tahun depan kita tetap bertanya.

Ia tertawa sekali. Cincin tetap di tangannya. Ia tidak melepaskannya. Ini rumah kita sendiri, katanya. Kamu berusia tiga puluh sembilan. Aku berusia tiga puluh tujuh. Lampu baru terhitung sesudah kita berdua mengangguk. Tidak ada orang lain yang menutup gorden ini untuk kita.

Minggu itu kami pergi kerja seperti biasa. Tidak ada yang di meja menyebut gorden. Aku berusia tiga puluh sembilan. Sebuah ya tidak butuh penonton. Rabu aku mencuci cangkir porselen lalu mengembalikannya, supaya tetap terlihat biasa. Gorden hanya kutarik separuh. Ia takut gelap penuh, dan ia terbiasa pada celah.

Kamis ia membiarkan lampu di sisi sofa tempat ia duduk, dan ia menanyakan tiga hal yang sama. Kamu masih bersedia? Tanganku boleh? Jika salah satu bilang berhenti, kita berdua berhenti?

Aku menjawab ya untuk masing-masing.

Suara tetap kami simpan di dalam rumah. Aku yang lebih dulu bilang berhenti, karena aku ingin tahu kata itu bekerja di rumah sendiri. Ia berhenti bersamaku dan menuang dua gelas air hangat. Ketika air habis aku berkata aku masih bersedia. Kalau begitu kita tanya lagi, katanya. Baru sesudah pertanyaan ia mendekat.

Kali ini lebih pelan. Ia duduk di lengan sofa, jari kaki di karpet, seperti memeriksa bahwa lantai masih milik kami. Kerah seperti ini boleh? Boleh. Jika tetangga mengetuk, kita berhenti? Kita berhenti, dan kita buka pintu seperti orang yang memang tinggal di sini. Ia mengangguk. Tidak ada yang mengetuk. Kemungkinan berhenti kami biarkan di dekat pintu, tidak terpakai.

Pagi hari ia menggoreng telur. Garamnya lebih sedikit dari biasanya. Lebih sedikit garam bukan isyarat, katanya. Toplesnya memang agak kosong. Aku tertawa. Tanganku ia letakkan di tepi meja dan tidak ia tekan. Jika malam ini hanya makan malam, kamu kecewa? Tidak. Makan malam juga tempat sebuah ya boleh berhenti.

Ia mengangguk. Lampu boleh padam. Celah gorden boleh menunggu sampai kali berikut sebelum kami memutuskan apakah akan menutupnya.

Sehelai kelopak dari bunga hari jadi jatuh ke meja. Ia tidak menyimpannya di buku. Kelopak itu ia sapu ke telapak tangan dan ia biarkan pergi bersama debu. Ada hal yang boleh tinggal di sofa. Ada hal yang tidak perlu dikumpulkan. Aku berusia tiga puluh sembilan. Ia berusia tiga puluh tujuh. Dua belas tahun adalah jalan yang sudah ditempuh, bukan kunci yang masih harus dikembalikan. Jika lampu menyala lagi, lampu itu menyala hanya sesudah kami berdua mengangguk lagi.

Makan malam Jumat adalah mi. Ia meniup sup dan bertanya apakah tiga kalimat kemarin masih terhitung. Masih. Kalau begitu tanya aku lagi, katanya. Sehari bisa mengubah sebuah ya. Kamu masih ingin aku tinggal? Aku ingin. Kamu boleh bilang tidak. Menolak tidak dihukum. Kita cuci piring dan membaca buku masing-masing. Aku tidak hanya ingin mencuci, kataku. Aku ingin kamu tinggal. Jika kamu hanya ingin mencuci, itu yang kita lakukan.

Ia memegang tanganku lagi di bawah lampu. Boleh? Boleh. Dan di sini? Boleh. Jika bel berbunyi, kamu berhenti? Aku berhenti. Ia mengangguk, dan baru kemudian dahinya ia sandarkan ke dahiku. Gorden masih menyisakan celah. Seseorang di luar membereskan gerobak. Logam berdentum dua kali. Kami tidak pergi melihat.

Sisanya tinggal di antara kami. Filamen lampu berbunyi kecil. Ketika napasnya melambat, ruangan hanya menyimpan itu. Aku tidak bertanya apakah ia lelah. Ia tidak menyebut hari jadi lagi. Ketika waktunya tiba, ia yang lebih dulu bilang berhenti. Aku berhenti bersamanya. Kerah ia rapikan dan ia memeriksa cermin, bukan untukku, melainkan untuk melihat apakah ia masih tampak seperti perempuan yang mengembalikan toples garam.

Malam itu hujan sedikit. Lampu jalan di celah pecah menjadi kepingan. Ketel kucuci dan dua cangkir kuletakkan berdampingan, lalu satu kugeser setengah jengkal, supaya tidak terlihat seperti sumpah yang tidak diminta siapa pun. Ia melihatnya. Setengah jengkal itu tepat, katanya. Terlalu dekat akan terlihat seolah kita melewatkan pertanyaan.

Minggu lampu menyala lagi. Mantel ia gantung di kursi sebelum mendekat. Aku berusia tiga puluh tujuh, katanya. Kamu berusia tiga puluh sembilan. Dua belas tahun menikah, dan aku sadar. Malam ini kita boleh duduk hanya sejauh ini. Kamu ingin aku mendekat? Ya. Kamu ingin aku tinggal? Ya. Jika salah satu bilang berhenti, kita berhenti? Ya.

Baru kemudian ia duduk. Pegas sofa berbunyi sekali, kecil. Napas kami biarkan mengurus sisa bahasa itu. Lampu tetap menyala. Celah tetap di gorden. Dua belas tahun tidak dipakai untuk melewatkan satu kalimat pun.

Teh sudah dingin. Ia tidak mengisinya lagi. Teh dingin membuktikan waktu sudah lewat. Teh dingin tidak membuktikan ada yang berutang. Cangkir kami biarkan di meja. Jika malam lain menginginkan kedekatan, kami menanyakan tiga pertanyaan lagi. Sampai saat itu celah gorden boleh tetap.

Jelajahi drama pendek AI

Temukan drama pendek AI dan pratinjau yang sudah tersedia di Huangguo Drama. Pilih genre dan tonton di browser. 18+.

Huangguo Drama · Jelajahi video →