Malam terakhir perjalanan tim: kartu masuk saku

【Fiksi dewasa. Semua dewasa.】

Kartu kamar masih dingin di saku ketika angin laut sampai ke koridor lantai delapan, dan ia sudah berkata bahwa aku boleh mengembalikannya.

Ia berusia tiga puluh dua. Aku berusia dua puluh sembilan. Kami bekerja di perusahaan yang sama, pada jenjang yang sama, dan tidak ada yang menjadi bawahan yang lain. Ini malam terakhir perjalanan tim. Saat makan malam kami masing-masing satu gelas, dan sesudah itu gelas hanya berisi air. Ketika yang lain pergi bernyanyi, ia berjalan di sampingku dan tidak memegang lenganku. Di lantai ini ia menyelipkan kartu ke sakuku, lalu tangannya ia tarik kembali seketika.

Kamu boleh kembalikan sekarang, katanya. Atau kamu boleh naik. Naik bukan perintah.

Aku berhenti di luar lift. Lampu koridor menyala bergiliran. Biarkan aku mendengar sisanya dulu, kataku.

Kami berdiri di samping alat pemadam. Tidak ada yang bersandar. Jika ada sesuatu malam ini, katanya, itu bukan karena gelas itu, dan bukan karena kartu sudah ada di sakumu. Aku sadar. Aku sudah bertanya pada diriku. Aku ingin kamu naik. Aku berharap kamu juga ingin. Jika tidak, kembalikan kartunya. Di bus besok kita hanya saling mengangguk. Tidak ada hukuman. Jika salah satu bilang berhenti, kita berhenti. Kamu yakin?

Aku sadar, kataku. Satu gelas itu sudah beberapa jam lalu. Aku ingin naik. Bukan karena kita jauh dari kantor. Bukan karena ada sesuatu di sakuku. Aku ingin tinggal. Jika kamu bilang berhenti, atau aku bilang berhenti, kita berhenti. Berhenti tidak menyentuh jadwal Senin. Aku bersedia.

Baik, katanya. Di pintu aku tetap mendengar jawaban yang sama. Jadwal adalah jadwal. Malam adalah malam.

Ia tidak langsung pergi. Lencana di lehernya ia lepas dan ia masukkan ke tas. Dua hari ini jangan bawa lencana ke dalam kamar, katanya. Lencana di kamar akan membuatnya terasa seperti rapat. Karpet lantai delapan menelan langkah kami.

Ia berhenti sebelum pintu terbuka. Seberkas cahaya nakas sudah menyelinap di celah. Kamu ingin masuk? Kamu ingin aku tinggal semalam? Salah satu dari kita boleh bilang berhenti. Jika salah satu mengatakannya, kita berhenti. Kalimat berikutnya tidak akan kupakai untuk menekanmu, dan tidak untuk menekanku.

Aku ingin masuk, kataku. Aku ingin kamu tinggal. Jika kamu bilang berhenti, atau aku bilang berhenti, kita berhenti.

Ia mengangguk, dan baru kemudian memakai kartu. Kamar itu hanya punya lampu nakas. Di luar ada laut. Orang tidak kelihatan. Lampu pecah di atas air. Ia duduk di ambang jendela. Boleh aku mendekat? Boleh. Boleh aku menciummu? Boleh. Tanganku boleh di pinggangmu? Boleh. Jika aku bilang kita hanya duduk di sini, kamu berhenti? Aku berhenti.

Ia menatapku lama, memeriksa bahwa jawaban-jawaban itu milik orang yang sama. Lalu ia berkata, baik. Kita pelan-pelan. Kita tidak menjanjikan bus malam ini.

Yang mengikuti tinggal bersama lampu dan angin dari air. Suara kami tidak kami bawa ke koridor. Ketika waktunya tiba, ia yang lebih dulu bilang berhenti. Aku berhenti bersamanya. Dahinya ia sandarkan di bahuku sampai napasnya rata.

Aku tidak akan menulis malam ini sebagai sisa hiburan perjalanan tim, katanya. Sisa hiburan terdengar seperti cara menolak pilihan. Aku di sini karena aku mengangguk. Kamu di sini karena kamu mengangguk. Lampu menyala supaya kita berdua bisa melihat anggukan itu.

Aku melihatnya, kataku.

Pagi hari ia masih di sana. Kartu ada di meja, dan di sampingnya satu baris kecil. Jangan antar aku. Senin kita rekan kerja.

Baris itu kubaca dua kali dan tidak aku abadikan. Di pintu ia berhenti. Kamu menyesal?

Orang yang menyesal tidak meninggalkan kartu di meja sampai pagi supaya kamu yang mengambilnya sendiri.

Ia tertawa sekali, pendek. Jangan duduk di sampingku di bus, katanya. Bukan untuk sembunyi. Untuk meninggalkan malam di dalam kamar. Jika kamu masih bersedia, kirim satu titik sebelum Senin depan. Jika tidak, aku anggap kamu sudah mengembalikan kartu.

Baik.

Di bus aku duduk di belakang. Ia duduk di jendela dekat depan. Di perhentian kami saling mengangguk, seperti dua orang sesudah rapat. Laut sudah tidak ada. Aku tidak mengirim apa pun. Titik itu harus menunggu sampai ingin melihatnya terpisah dari jadwal.

Catatan itu kulipat ke saku dalam dan tidak aku abadikan. Aku berusia dua puluh sembilan. Aku bisa menunggu ya yang ia ucapkan lebih dulu. Rabu malam aku menghapus kalimat yang hampir kukirim dan hanya meninggalkan satu titik. Ia membalas satu titik.

Kamis ia menyebut sebuah hotel yang bukan hotel di tepi laut, di lantai yang berbeda. Di pintu aku akan bertanya lagi. Kamu boleh bilang tidak. Aku berusia tiga puluh dua. Kamu berusia dua puluh sembilan. Kita masih satu jenjang. Tidak ada yang menuliskan yang lain ke dalam penilaian kerja.

Aku menjawab. Aku masih bersedia. Aku sadar. Kamu boleh menyuruhku pulang di pintu.

Di pintu, lampu di dalam sudah menyala. Ia mengulang tiga pertanyaan. Kamu ingin masuk? Kamu ingin aku tinggal? Jika salah satu bilang berhenti, kita berhenti?

Aku menjawab ya untuk masing-masing.

Baru kemudian ia membuka pintu. Lampu nakas. Ambang jendela. Kali ini jendela menunjukkan jalan yang sepi, bukan laut. Lencana ia biarkan di tas dan tidak dikeluarkan. Aku berusia tiga puluh dua, katanya. Kamu berusia dua puluh sembilan. Kita dewasa, dan belum ada yang menyesal. Jika penyesalan datang, bilang berhenti.

Aku tidak menyesal sekarang, kataku. Ketika waktunya berhenti, aku akan mengatakannya.

Malam kedua lebih sunyi daripada yang pertama. Pertanyaan sudah diucapkan. Yang tersisa adalah napas, dan kenyataan bahwa tidak ada yang mematikan lampu. Ketika selesai ia merapikan kerah dan memakai namaku, bukan nama keluarga yang terburu di lencana. Kamu ingin duduk berhadapan denganku di rapat minggu depan? Ya. Duduk berhadapan adalah kerja. Kerja bukan barang yang kita tukar dengan malam ini.

Benar, katanya. Rapat membahas jadwal. Sesudah jadwal selesai, kita kembali ke meja masing-masing.

Menjelang pagi aku turun lebih dulu. Ia tidak mengantarku ke jalan. Jalan akan mengubah dua orang menjadi jarak yang butuh penjelasan. Aku menoleh sekali. Lampu di jendela sudah padam. Sakuku tidak memegang kartu dan tidak memegang lencana.

Senin ia duduk berhadapan denganku. Proyektor menyala. Kami menyelesaikan yang harus diselesaikan. Ketika ruangan kosong ia melewati kursiku, dan buku jarinya menyentuh tepi meja, ringan sekali, seperti tidak sengaja. Aku tidak mengikuti dia keluar. Lampu ruang rapat tetap menyala. Lampu itu tidak ada urusannya dengan kami. Jika titik lain datang, kami menjawabnya nanti. Sampai saat itu kartu tidak perlu diperlihatkan kepada siapa pun.

Malam itu ia mengirim satu kata. Di sini. Aku membalas. Di sini. Sebelum terkirim aku membaca tiga artinya lagi. Bersedia. Tinggal. Jika salah satu bilang berhenti, kita berhenti. Ketiganya masih berlaku. Ia berusia tiga puluh dua. Aku berusia dua puluh sembilan. Satu jenjang tetap berarti satu jenjang. Lampu ruang rapat sudah padam. Ya berikutnya kami tinggalkan untuk ambang pintu berikutnya.

Jelajahi drama pendek AI

Temukan drama pendek AI dan pratinjau yang sudah tersedia di Huangguo Drama. Pilih genre dan tonton di browser. 18+.

Huangguo Drama · Jelajahi video →