Direktur desain Zhou Ningning: tujuh menit pintu terkunci

【Fiksi. Semua tokoh dewasa.】

Zhou Ningning berumur tiga puluh dua, direktur desain. Liang Heng berumur tiga puluh lima, direktur desain di tim lain. Tidak ada yang melapor kepada yang lain. Menjelang pukul sembilan, lantai itu hanya menyisakan lampu pantri dan dua pintu yang masih terang.

Kemudian seseorang di obrolan rekan berkata pintunya terkunci tujuh menit. Tujuh menit menjadi kejadian, lalu menjadi pertunjukan. Seseorang bahkan menempelkan kalender dan melingkari bagian yang kosong. Kekosongan bukan kesalahan. Kekosongan baru menjadi gosip ketika orang lain menulis kalimat mereka sendiri ke dalamnya.

Sebelum Zhou Ningning mengunci pintu, ia menutup berkas. Ia menatap Liang Heng dan berkata Liang Heng tidak harus tinggal. Penilaian sudah selesai. Jika ia tinggal, itu hanya karena ia ingin.

Liang Heng berkata, aku ingin.

Zhou Ningning bertanya, tujuh menit ini, kamu bersedia?

Liang Heng berkata, ya.

Keduanya sadar penuh. Di lantai itu yang tersisa hanya lampu pantri, dan yang akan mereka minum nanti hanya teh serta air. Zhou Ningning berkata, siapa pun boleh berhenti. Berhenti tidak dihukum, dan tidak ada pidato yang harus diserahkan pada obrolan rekan. Jabatan tidak membeli tujuh menit ini. Mereka sejawat. Tidak ada yang melapor kepada yang lain.

Ia mengunci pintu. Separuh lampu. Tumit sepatu Liang Heng bersandar di kaki kursi, dan kulitnya berderit sekali. Zhou Ningning bersandar di tepi meja, menarik napas, lalu membiarkan napas itu tetap napas. Jendela lorong memantulkan lampu pantri. Di dalam ruangan hanya dua direktur dari dua tim, dan berkasnya sudah tertutup.

Zhou Ningning bertanya apakah tangan Liang Heng boleh bertumpu di pinggangnya. Liang Heng ingin itu. Telapaknya hangat di atas kain, dan ia tidak menggesernya lebih jauh dari yang diminta. Zhou Ningning mengedip sekali. Liang Heng menarik tangannya kembali ke sisi tubuhnya. Kedipan itu sudah jelas. Ia tidak meminta alasan, dan ia tidak mengisi jeda dengan pertanyaan yang sama.

Tujuh menit tidak panjang. Yang panjang adalah kalimat sebelum kunci berputar. Mereka tidak membawa rincian sesudahnya ke koridor. Lampu tetap separuh. Kursi tetap di tempatnya. Hangat di sandaran menghilang sebelum pintu terbuka. Ketika Zhou Ningning memutar kunci kembali, lorong kosong. Bau karpet yang baru disedot masih samar. Mereka kembali ke meja masing-masing seolah hanya mengambil air dari pantri, gelas kertas di tangan, langkah yang tidak buru-buru.

Keesokan hari seseorang merendahkan suara di pantri. Sendok beradu dengan cangkir. Zhou Ningning mendengar potongan tentang tujuh menit dan tidak menambahkan satu kata. Sore hari ia menemui Liang Heng di tangga darurat. Tangga itu berbau logam dan sabun lantai. Ia bertanya apakah kesepakatan semalam masih berdiri, bukan untuk mengulanginya kata demi kata, tetapi supaya ia tidak harus mengulanginya.

Liang Heng mengangguk. Jika mereka berdua masih menginginkan waktu, mereka menanyakannya di luar lantai. Jika tidak, penilaian memang sudah selesai. Ia masih ingin. Zhou Ningning juga masih ingin. Mereka tidak memecah keinginan itu menjadi tiga tanya yang sama di tangga yang menggema.

Zhou Ningning merendahkan suaranya karena gema. Ia tidak datang untuk meninjau pintu. Ia datang karena takut tujuh menit akan ditulis sebagai sesuatu yang dibeli dengan jabatan. Rasa itu lebih mengganggu daripada desas-desus itu sendiri. Pagar di sampingnya dingin. Ia memegangnya sampai jarinya ikut dingin.

Liang Heng menggeleng. Kamu tidak memakai jabatan, katanya. Aku juga tidak. Jika aku mengira ini syarat, aku sudah pergi sebelum kunci berputar. Aku bisa pergi kapan saja. Kamu bisa membuka pintu itu, dan kamu memang membukanya. Pintu yang terbuka lebih penting daripada judul mana pun di obrolan.

Zhou Ningning bertanya apakah berdiri di sini sampai sistem udara mati, tanpa melakukan hal lain, masih terhitung sebagai bertemu. Liang Heng ingin berdiri. Bertemu boleh hanya berdiri. Boleh juga ia kembali ke mejanya dan menyelesaikan jarak tepi. Lima menit, kata Zhou Ningning. Aku perlu tahu keinginanmu bukan karena lantai kebetulan kosong.

Liang Heng berkata lantai yang kosong hanya kebetulan. Kesediaannya sudah ada ketika penilaian selesai, di bawah lampu yang masih separuh, sebelum siapa pun melingkari kalender. Zhou Ningning sudah mengatakan ia boleh pergi. Ia memilih tinggal. Jika Zhou Ningning mengedip lagi, ia mundur, seperti semalam, tanpa meminta pidato.

Dalam lima menit itu mereka tidak mendekat. Udara naik dari cerobong tangga membawa bau sabun dari pantri, tipis dan bersih. Zhou Ningning merasa ini lebih dekat pada hal yang ingin ia jaga daripada tujuh menit yang dibesar-besarkan. Dua sejawat, di tangga yang menggema, memilih untuk tidak menambah adegan. Sistem udara berderum sekali, lalu turun.

Kembali di mejanya, Zhou Ningning mengirim catatan penilaian dan tidak menyebut pintu. Kursor berkedip di akhir paragraf, lalu ia menekan kirim. Di saluran tim lain, Liang Heng membalas dengan catatan teknis dalam suara biasanya: ukuran huruf, jarak baris, satu usul tentang tepi halaman. Yang menenangkannya bukan isinya. Yang menenangkan adalah Liang Heng tidak memakai nada pribadi untuk mengingatkan semua orang bahwa mereka saling kenal.

Zhou Ningning mengirim satu kalimat yang hanya mereka mengerti: jika besok kita lembur, kita tetap bertanya lebih dulu. Liang Heng menjawab bahwa bertanya lebih dulu tetap berlaku, dan siapa pun boleh bilang tidak. Tidak dan selesai adalah jenis kata yang sama. Zhou Ningning menyimpan balasan itu, bukan sebagai kenang-kenangan, tetapi supaya ketika desas-desus paling ramai ia masih bisa melihat kalimat aslinya di antara catatan huruf.

Lampu pantri mati kemudian. Lantai benar-benar kosong. Keduanya sudah turun. Lift berbunyi sekali di lantai bawah, lalu sunyi. Tidak ada yang menambah penjelasan di dalam lift untuk didengar orang lain. Penjelasan akan menyerahkan tujuh menit itu lagi pada obrolan. Mereka membiarkan menit-menit itu tinggal di dalam pertanyaan yang sudah diucapkan.

Komentar mengubah tujuh menit menjadi judul. Di bawah judul itu tidak ada yang menanyakan apakah kedua orang itu menginginkannya. Zhou Ningning yang mengunci pintu, dan Zhou Ningning yang membukanya. Sesudahnya mereka tetap sejawat. Tidak ada yang memakai jabatan untuk mengubah malam menjadi syarat, dan kalender yang dilingkari tetap hanya kalender.

Bagian dua

Seminggu setelah tujuh menit itu, Zhou Ningning dan Liang Heng bertemu di kedai teh dua jalan dari kantor, dan tidak ada yang membawa berkas. Mereka masih direktur desain di tim yang berbeda. Tidak ada yang melapor kepada yang lain. Kedai itu bukan ruang rapat. Pintunya tetap tidak terkunci, dan bel di atas pintu berbunyi ketika mereka masuk, lalu diam.

Zhou Ningning berbicara lebih dulu. Aku tidak memintamu ke sini untuk meninjau kunci. Jika kamu hanya ingin air lalu kembali ke soremu sendiri, itu jawaban yang utuh. Kamu bersedia duduk?

Liang Heng ingin duduk. Ia bersedia. Liang Heng berumur tiga puluh lima, dan ia bisa pergi kapan saja tanpa menjelaskan pada lantai. Jika Zhou Ningning berkata teh ini sudah cukup, ia mendengarnya. Jabatan tidak bisa membeli jam ini. Mereka memesan teh, bukan untuk rapat, dan mereka meletakkan telepon menghadap meja.

Zhou Ningning bertanya apakah Liang Heng ingin berbicara tentang tujuh menit itu atau membiarkannya tertutup. Liang Heng hanya akan bicara jika Zhou Ningning menginginkannya. Zhou Ningning ingin satu hal diucapkan di siang hari, dengan cahaya kedai dan bukan dengan lampu separuh. Pintu kantor tidak akan dikunci lagi untuk ini. Jika mereka ingin waktu, mereka memintanya di luar lantai. Liang Heng ingin menjaga kerja di meja. Ia tidak ingin kekosongan di kalender menggantikan pertanyaan.

Teh datang. Uapnya mengenai dagu Zhou Ningning. Ia bertanya apakah ia boleh duduk di sisi meja yang sama. Liang Heng ingin ia di sisi itu. Setelah duduk, Zhou Ningning bertanya apakah tangannya boleh menutup tangan Liang Heng sejenak. Liang Heng ingin itu, karena Zhou Ningning yang menginginkan. Jari mereka bertemu di atas serbet. Zhou Ningning berkata, jeda. Liang Heng menarik tangannya. Zhou Ningning menatapnya dan berkata ia perlu tahu kata itu masih ada, di luar tangga, di tempat siapa pun bisa membuka pintu. Mereka boleh lanjut minum, atau mereka boleh selesai pada cangkir ini. Liang Heng masih ingin duduk sampai tehnya habis. Zhou Ningning juga ingin.

Mereka berbicara tentang bentuk huruf yang tidak ada hubungannya dengan desas-desus. Liang Heng menggambar satu lengkung di tepi serbet, lalu melipat serbet itu sehingga gambarnya tidak terlihat pelayan. Zhou Ningning berkata ia tidak akan memakai pangkat untuk membuat malam berikutnya lebih mudah, dan ia tidak ingin Liang Heng memakai pangkatnya. Liang Heng berkata ia sudah akan pergi sebelum kunci berputar jika ia mengira malam itu adalah syarat. Ia tetap akan begitu, di kedai yang pintunya tidak terkunci. Zhou Ningning mengangguk. Dua sejawat bisa berbagi meja dan tetap berjalan keluar sebagai sejawat.

Ketika teko tinggal sedikit, Zhou Ningning meletakkan cangkir dan berkata, berhenti. Liang Heng meletakkan cangkirnya juga. Mereka membayar masing-masing. Koin Zhou Ningning berdenting di nampan. Di luar, matahari sudah rendah di antara dua gedung. Zhou Ningning bertanya apakah Liang Heng ingin berjalan sampai sudut, dan tidak lebih jauh kecuali ia bertanya lagi. Liang Heng ingin berjalan sampai sudut itu.

Di sudut Zhou Ningning berdiri di bawah lampu toko yang belum menyala. Ini cukup, katanya. Liang Heng mendengarnya. Besok di lantai mereka akan memakai suara biasa: huruf, tepi, jarak baris. Suara biasa tidak menghapus batas yang pribadi. Ia hanya menjaga jabatan agar tidak tertulis ke dalam syarat. Tujuh menit itu tinggal di dalam pertanyaan yang sudah mereka ucapkan. Kedai teh tidak berutang judul baru pada obrolan rekan, dan bel di pintunya tidak menceritakan siapa yang duduk di sisi meja yang sama.

Jelajahi drama pendek AI

Temukan drama pendek AI dan pratinjau yang sudah tersedia di Huangguo Drama. Pilih genre dan tonton di browser. 18+.

Huangguo Drama · Jelajahi video →