Pramugari Su Qing: di layover dia menutup gorden sendiri
【Fiksi. Semua tokoh dewasa.】
Su Qing berumur tiga puluh satu dan menerbangkan rute jauh. Pacarnya, Chen Yu, berumur tiga puluh tiga. Ia arsitek. Ia tidak bekerja untuk maskapai. Pada malam singgah, Chen Yu membeli tiketnya sendiri, mendarat di kota Su Qing, dan menunggu di kamar yang dipesan Su Qing.
Di obrolan awak ada yang berkata Su Qing tidak membalas semalaman. Gosip di darat mengubah keheningan itu menjadi dinding kaca dan sebuah kecelakaan. Komentar bekerja keras. Mereka menjadikan satu jendela sebagai seluruh cerita.
Su Qing masuk, meletakkan topinya di kursi, dan menarik gorden dari ujung ke ujung. Ia yang menariknya sendiri. Baru sesudah itu ia berbalik. Chen Yu berdiri di samping tas dan belum memeluknya. Ia berkata ia bisa menunggu sampai sisa dinas turun dari bahu Su Qing.
Su Qing ingin bertanya lebih dulu. Kamu ingin tinggal? Bukan karena tiket sudah terbeli. Karena kamu ingin.
Chen Yu berkata, ya. Aku ingin tinggal.
Su Qing bertanya, jika nanti ia bilang terlalu lelah, apakah mereka boleh berhenti. Chen Yu ingin aturan itu. Keduanya sadar jernih, dan gelas mereka hanya berisi teh serta air. Kalau salah satu lelah, mereka berhenti, tanpa hukuman dan tanpa penjelasan untuk obrolan awak. Su Qing tidak harus menjamu siapa pun. Kesediaan Chen Yu sudah diucapkan, dan lelah tidak membatalkannya menjadi hutang.
Ia memasukkan lencana ke dalam tas dan menuang dua gelas air hangat. Lampu di sisi ruangan ia biarkan menyala. Kota tetap di luar gorden, seperti mantel yang bukan milik mereka berdua. Gelasnya berembun. Su Qing memegang gelas itu sampai jarinya hangat.
Mereka duduk di tepi sofa, lutut bertemu lutut, dan berbicara lebih dulu. Su Qing bercerita tentang guncangan udara, tentang penumpang yang meninggalkan penyuara telinga di kantung kursi, tentang betapa ia ingin mandi air panas. Chen Yu berkata, kalau begitu mandilah. Aku di sini. Su Qing menatapnya dan bertanya apakah itu hanya sopan santun. Chen Yu menggeleng. Sopan santun dan keinginan, baginya, tidak sama. Ia ingin Su Qing mandi karena Su Qing menginginkannya, bukan karena ada tamu yang harus dilayani.
Ketika Su Qing keluar, rambutnya masih lembap dan kerah bajunya basah di satu titik. Ia bertanya apakah ia boleh mendekat sekarang. Chen Yu ingin ia mendekat. Su Qing menyandarkan dahinya di bahu Chen Yu. Kata berhenti, katanya, tetap berlaku kapan saja. Chen Yu sudah tahu, dan ia tidak meminta Su Qing mengulanginya.
Sisa malam itu tidak mereka ceritakan ke obrolan awak. Gorden tetap tertutup. Lampu tetap menyala. Tidak ada yang mengubah jam itu menjadi kalimat yang bisa diteruskan. Di luar, lift berbunyi sekali, lalu lorong kembali sepi.
Keesokan hari seseorang dari maskapai mengiriminya pesan dan bertanya apakah ia ingin sebuah pernyataan. Su Qing bertanya, pernyataan tentang apa. Orang itu berkata, samar, bahwa orang di luar sedang mengarang. Su Qing menjawab bahwa pacarnya bukan awak, dan malam singgah ini milik mereka. Tidak perlu ada narator. Pesan itu ia kirim pendek, lalu ia simpan ponsel.
Penerbangan Chen Yu berangkat lebih dulu. Sebelum pergi ia bertanya apakah ia harus terbang lagi jika jadwal memungkinkan. Su Qing ingin itu. Kirim satu titik lebih dulu, katanya. Kalau ia membalas titik, ia masih ingin Chen Yu di sana. Kalau ia tidak membalas, jangan pesan kamar. Titik itu bukan teka-teki. Titik itu pertanyaan yang menunggu jawaban.
Su Qing membisukan obrolan awak. Ia tidak marah. Ia tidak ingin membaca namanya sendiri saat sedang melepaskan hari dari wajahnya. Chen Yu duduk di karpet dan mengikat sepatu, lalu melepaskannya lagi. Ia berkata ia sebenarnya tidak harus mengejar penerbangan paling pagi. Su Qing menatapnya. Ia tidak perlu mengubah tiket untuk membuktikan bahwa ia bersedia. Kesediaan sudah diucapkan. Jika ia ingin dua jam lagi, ia bisa mengatakannya dengan jelas.
Chen Yu ingin dua jam lagi. Bukan karena orang di luar mengarang cerita tentang kaca. Karena ia ingin menghabiskan teh. Su Qing juga ingin teh itu. Dalam dua jam itu mereka masih bisa berhenti. Jika Su Qing hanya ingin bersandar dan memejamkan mata, jangan menerjemahkan diam menjadi jawaban baru. Chen Yu mengerti. Diam adalah diam. Mereka sudah melewati usia yang mengubah keheningan menjadi alur orang lain.
Su Qing bersandar di bantal kursi dan membereskan pesan yang terlewat. Seorang teman bertanya ke mana ia pergi setelah mendarat. Ia menjawab dengan empat kata dan tanpa nama tempat: bersama orangku. Chen Yu melihatnya dan bertanya apakah itu akan membuat orang makin menebak. Su Qing berkata, biar mereka menebak. Mereka tidak akan menebak bahwa gorden itu ia tarik, dan mereka tidak akan menebak bahwa ia sudah bertanya.
Ketika dua jam itu hampir habis, Su Qing bertanya apakah pelukan boleh. Chen Yu ingin pelukan itu. Dahinya tidak ia geser, lalu ia bertanya apakah Chen Yu masih bisa tersenyum dan mengejar pesawat jika mereka berhenti sekarang. Chen Yu bisa. Kalau mereka berhenti, mereka tetap mereka. Tiket ada di sakunya, bukan di jadwal dinas Su Qing.
Su Qing menyimpan kalimat itu. Pada singgah berikutnya ia lebih dulu melihat apakah ia ingin mengirim titik, bukan apakah komentar sudah punya versi baru.
Penerbangan belum dipanggil. Su Qing memasukkan topi kembali ke kotak. Ia benci jika orang lain menulis rute untuk singgahnya. Chen Yu berkata mereka tidak akan memberi rute. Mereka akan memberi pertanyaan. Su Qing masih ingin Chen Yu di kursi itu, sampai panggilan datang. Jika panggilan datang lebih awal, mereka bisa berhenti pada pelukan.
Chen Yu menggulung kertas gambar bangunan, lalu menyelipkannya ke saku samping. Garis-garis itu untuk rumah, katanya, bukan untuk dinas Su Qing. Gambar dan orang, baginya, tidak sama. Gorden yang Su Qing tarik lebih akurat daripada apa pun yang dikatakan orang tentang kaca. Su Qing tertawa dan menyuruhnya meninggalkan kalimat itu padanya, bukan di obrolan.
Sebelum pergi Su Qing berkata, jika ia lambat membalas titik berikutnya, Chen Yu jangan menebak bahwa ia berubah pikiran. Chen Yu harus bertanya lagi. Bertanya lagi adalah bagian dari bersedia. Tidak bertanya adalah cara mendorong seseorang ke dalam cerita milik orang lain.
Komentar memanas lagi kemudian. Cerita tentang kaca tumbuh menjadi beberapa versi. Tidak satu pun bertanya apakah kedua orang itu menginginkannya. Dua orang di dalam kamar sudah mengucapkan jawabannya. Su Qing menarik gorden itu sendiri. Kalimat itu tidak pernah masuk ke obrolan kelompok, dan itulah satu-satunya fakta dari malam itu yang bisa berdiri.
Bagian dua
Singgah berikutnya dimulai dengan titik, bukan dengan kamar. Su Qing mengirim tanda itu dari bus awak dan tidak menambahkan nama tempat. Mesin bus bergetar di bawah telapaknya. Chen Yu membalas dengan tanda yang sama. Baru kemudian Su Qing menulis: jika kamu masih ingin kamar yang kupesan, katakan. Jika tidak, tinggallah di sisi kotamu sendiri.
Chen Yu menulis bahwa ia ingin kamar itu. Ia bersedia. Su Qing membalas bahwa ia juga ingin. Naiklah setelah aku mandi, tulisnya. Jika pintunya belum terbuka ketika kamu datang, tunggu di lobi atau kirim pesan. Jangan menganggap pintu yang tertutup sebagai jawaban. Chen Yu membalas bahwa ia bisa berhenti, dan ia tidak akan mengubah pintu yang tertutup menjadi cerita.
Su Qing menarik gorden sendiri lagi sebelum Chen Yu tiba. Kainnya berat, dan cincin gorden berbunyi satu per satu. Kota tetap di luar, mantel yang masih bukan milik mereka. Ketika Chen Yu mengetuk, Su Qing membuka pintu dan mengucapkan pertanyaan dengan suara, karena tanda di ponsel bukan seluruh malam. Kamu masih ingin tinggal malam ini? Chen Yu ingin tinggal. Bukan karena tiket sudah terpakai. Karena ia ingin. Rambut Su Qing masih lembap. Handuk kecil tergantung di kursi, dan kamar berbau sabun.
Su Qing bertanya apakah salah satu dari mereka boleh berhenti jika dua jam itu menjadi berat. Chen Yu ingin aturan itu tetap. Kalau Su Qing berhenti, ia berhenti. Kalau ia sendiri berhenti, Su Qing berhenti. Su Qing tidak harus menjamunya. Teh yang ia bawa dari bandara masih hangat di tutup kertasnya.
Mereka minum teh yang Chen Yu ingin habiskan. Su Qing bercerita tentang penumpang yang minta jendela lalu duduk diam di situ, memejamkan mata sampai sabuk tanda dibuka. Chen Yu bercerita tentang tangga yang ia gambar ulang tiga kali. Kedua cerita itu tidak perlu masuk obrolan awak. Su Qing bertanya apakah tangan Chen Yu boleh di meja, bukan di tubuhnya. Chen Yu meletakkan tangannya di sana. Kemudian Su Qing berkata tangan itu boleh pindah ke pergelangan tangannya. Chen Yu bertanya sekali, karena itu langkah baru. Su Qing menginginkannya. Ketika cangkir kosong Su Qing berkata jeda. Chen Yu mengangkat tangannya. Jeda di tengah teh tetap terhitung.
Panggilan penerbangan Chen Yu datang lebih awal daripada dua jam. Pengeras suara di lorong samar, lalu hilang. Su Qing bertanya apakah pelukan boleh sebelum ia pergi. Chen Yu ingin pelukan sebelum berangkat. Su Qing menyandarkan dahi di bahunya, lalu berkata, berhenti. Chen Yu berhenti, tersenyum, dan mengambil tas. Tiket tetap di saku Chen Yu, terpisah dari jadwal dinas Su Qing. Su Qing berkata, jika ia lambat membalas titik berikutnya, tanya lagi. Jangan menebak. Chen Yu akan bertanya lagi. Bertanya ulang termasuk dalam kesediaan itu.
Setelah Chen Yu pergi Su Qing tidak menulis pernyataan. Chen Yu berumur tiga puluh tiga, dan gambar di saku sampingnya tetap sebuah rumah, bukan dinas Su Qing. Gorden tetap seperti yang Su Qing tinggalkan. Komentar boleh mengarang kaca yang lain. Dua orang itu sudah mengatakan apa yang mereka inginkan, dan siapa pun dari mereka bisa berhenti.
Su Qing mencuci dua cangkir dan membiarkan lampu menyala sampai ia selesai mengeringkan rambut. Ia tidak membuka obrolan awak. Titik di ponsel tetap titik, bukan denah. Besok pagi topi kembali ke kotak, dan singgah itu selesai sebagai milik mereka, bukan sebagai jendela yang ditulis orang lain.
- Pustaka lengkap
- Streamer Lin Wanwan: ponsel ditelungkupkan setelah live
- Direktur desain Zhou Ningning: tujuh menit pintu terkunci
- Bintang Gu Wan: apartemen pinjaman setelah malam di lokasi
- Kreator gym Song Qi: setelah tutup, hanya dia dan tunangannya
- Pendamping pengantin: setelah resepsi mereka menutup pintu
- Eksekutif emiten: setelah gala, dua rekan sebaya dan teh
- Pemeran utama musikal: malam penutupan, lampu di ruang ganti
- Foto hotel | Setelah lembur dia bilang, “Jangan tanya aku pulang.”
- Lampu ruang tamu masih nyala. Tetangga terus mengetuk.
- Pertama kali pasang kamera sendiri, dia tertawa ke bantal.
- Gaun merah | Suaminya merokok di seberang meja
- Cermin berkabut. Dia usap sebentar lalu melihatmu.
- Spa lembur, satu lampu. Lencana dilempar ke samping.
- Catatan janji | Cincin masuk tas sebelum pintu
- Jari di bibirku: jangan bersuara.
Jelajahi drama pendek AI
Temukan drama pendek AI dan pratinjau yang sudah tersedia di Huangguo Drama. Pilih genre dan tonton di browser. 18+.
Huangguo Drama · Jelajahi video →