Kreator gym Song Qi: setelah tutup, hanya dia dan tunangannya
【Fiksi. Semua tokoh dewasa.】
Song Qi berumur tiga puluh. Studionya miliknya sendiri. Tunangannya, Jiang Heng, berumur tiga puluh dua. Jiang Heng tidak memegang kartu anggota di sana, dan Song Qi tidak memperlakukannya sebagai orang yang dijadwalkan. Setelah tutup, lampu meja depan padam. Anggota keluar lewat pintu depan. Song Qi memutar kunci dari dalam.
Keesokan hari komentar berkata cahaya mati di bawah pintu, jadi pasti ada cerita. Seseorang menyebutnya latihan yang molor. Seseorang mengarang tamu yang tidak pernah ada. Song Qi membaca kalimat-kalimat itu dan menjawab dengan enam kata: kami sudah tutup. Yang pulang, pulanglah.
Jiang Heng masuk lewat lorong petugas karena Song Qi memberinya kunci cadangan. Tempatnya di ruangan itu adalah tunangan, bukan nama di daftar. Ia bertanya lebih dulu apakah mereka masih berlatih hari ini. Song Qi berkata, tidak. Aku ingin duduk. Kamu ingin duduk bersamaku?
Jiang Heng berkata, ya.
Keduanya sadar jernih. Gelas yang nanti mereka isi hanya air, dan studio yang sudah tutup bukan jadwal yang disembunyikan. Song Qi berkata, jika di tengah duduk ia ingin pulang, mereka bisa berhenti. Jika Jiang Heng ingin pergi lebih dulu, ia mengatakannya. Siapa pun boleh berhenti. Berhenti tidak dihukum, dan istirahat tidak harus ditulis sebagai latihan.
Song Qi mematikan pengeras suara. Dengung yang hilang membuat kulkas terdengar. Di cermin ada dua orang dengan pakaian mereka sendiri, dan tidak ada yang mengantri. Song Qi duduk di matras dan menepuk tempat di sampingnya. Jiang Heng mendekat karena ia ingin, bukan karena namanya ada di daftar. Bahunya turun setelah ia duduk. Matrasnya masih hangat dari siang, tetapi antriannya sudah pergi.
Song Qi bertanya apakah tangan Jiang Heng boleh bertumpu di lututnya. Jiang Heng ingin tangannya di sana. Song Qi bertanya tentang lampu terakhir. Jiang Heng berkata itu keputusan Song Qi, karena ruangan ini miliknya. Song Qi berpikir, lalu membiarkan lampu itu menyala. Aku suka melihat wajahmu, katanya. Anggukan yang tidak kulihat adalah anggukan yang tidak kuambil.
Mereka berciuman, singkat, seperti menutup satu kalimat. Song Qi menggeser bahu. Jiang Heng mengangkat tangannya dan duduk kembali di tempatnya. Geseran itu sudah cukup. Ia tidak meminta Song Qi mengulang batas yang baru saja ia tunjukkan. Lampu tetap menyala, jadi keduanya bisa melihat bahwa kata itu bekerja.
Yang terjadi di matras sesudahnya bukan unggahan. Pintu terkunci karena studio sudah tutup, bukan karena ada orang yang dikurung di dalam cerita. Keduanya tahu di mana kunci berada dan bagaimana pintu dibuka dari dalam. Song Qi menunjuk kaitnya sekali, tanpa menjadikannya pelajaran. Jiang Heng mengangguk. Kunci ada di situ. Orang yang memegangnya adalah Song Qi.
Setelah tutup, studio punya suara yang siang menutupi: kulkas, udara, napas mereka sendiri. Song Qi mematikan pesan anggota. Pesan-pesan itu sudah mengubah satu lampu yang redup menjadi jadwal. Ia berkata kepada Jiang Heng bahwa ia mengenal tokonya sendiri. Ia yang memutuskan kapan kunci berputar dan kapan orang pergi. Jiang Heng bukan tamu yang ditahan. Ia orang yang ditanya, dan baru kemudian ia tinggal.
Jiang Heng merapikan sudut matras dan berkata ia akan menaruh tempatnya dengan kalimat yang jelas. Ia tunangan Song Qi. Ia tidak ada di daftar harga, dan ia tidak dijadwalkan. Ia tinggal malam ini karena Song Qi bertanya dan karena ia ingin. Jika besok ada yang berkata ia datang untuk latihan berbayar, orang itu tidak bertanya pada mereka.
Song Qi tersenyum, lalu menjadi sungguh lagi. Jika aku hanya ingin kamu merapikan bantalan bahu lalu pulang bersamaku, apakah itu malam yang utuh? Jiang Heng ingin malam yang seperti itu. Merapikan bantalan boleh menjadi seluruhnya. Mendekat, jika ada, akan ditanyakan sebagai langkah baru. Jika Song Qi menggeser tangannya, ia melepaskan. Ia tidak akan mengubah istirahat di studio Song Qi menjadi cerita yang orang lain kira sudah mereka bayar.
Mereka memang merapikan bantalan lebih dulu. Kainnya berbau sabun yang dipakai siang. Setelah selesai Song Qi tidak langsung pergi. Ia duduk dan berkata, sepuluh menit lagi. Sepuluh menit ini aku masih ingin dekat, dan aku ingin lampu tetap menyala. Jiang Heng ingin tinggal di sampingnya selama itu. Ketika menit itu habis, Song Qi menepuk lututnya sendiri dan berkata cukup untuk matras. Jiang Heng duduk tegak. Cukup itu ia dengar tanpa menambah usul.
Song Qi berkata mereka sebaiknya pergi makan mi. Jiang Heng setuju. Ia yang memutar kunci, karena tangan Song Qi sedang mencari mantel. Mereka keluar lewat pintu samping. Engselnya berbunyi pendek. Jalan kosong, dan papan di depan studio sudah gelap. Tidak ada yang membutuhkan jadwal mereka malam itu.
Kedai mi hanya memiliki mereka berdua sebagai tamu. Kuah mengepul. Song Qi menelungkupkan ponsel di samping cuka dan berkata, jika studio sudah tutup, orangnya juga berhak tutup. Jiang Heng menyodorkan mangkuk dan berkata tutup boleh terjadi setiap hari. Song Qi tidak berutang penjelasan lampu pada pesan-pesan itu. Lampu milik ruangan. Pertanyaan milik mereka. Cuka di meja lebih nyata daripada cerita tentang cahaya di bawah pintu.
Song Qi ingin satu hal tetap jelas sebelum sup mengaburkan malam. Kamu bersedia mengantarku pulang dan berpisah di bawah? Jiang Heng bersedia. Di bawah boleh menjadi seluruhnya. Jika Song Qi ingin ia naik dan duduk, Song Qi harus menanyakannya terpisah. Ia tidak akan mengubah antar-jemput menjadi hal lain hanya karena tangga sudah dekat.
Ketika mangkuk kosong mereka berjalan di jalan yang tidak punya papan terang. Anginnya biasa. Di pintu bangunan Song Qi berkata, cukup di sini. Jiang Heng melepaskan lengan bajunya. Batasnya jelas, dan ia tidak menaiki satu tapak pun. Apakah mereka bertemu di studio besok bisa ditanyakan pagi. Malam ini, mi dan jalan sudah cukup.
Pagi hari Song Qi mengunggah satu kalimat datar: hari istirahat. Komentar memintanya menjelaskan lampu. Ia tidak menjelaskan. Jiang Heng menyodorkan segelas air di dapur dan bertanya apakah mereka akan duduk di studio lagi malam ini. Song Qi ingin, jika mereka bertanya lebih dulu. Jiang Heng juga ingin. Jika Song Qi hanya ingin sepuluh menit meregangkan tubuh lalu pergi, mereka pergi. Malam yang pendek tetap utuh.
Bagian dua
Malam itu mereka benar-benar kembali ke studio, dan mereka bertanya sebelum kunci berputar. Jiang Heng tidak ada di daftar anggota, dan ia bukan orang yang Song Qi jadwalkan. Meja depan sudah gelap. Lampu jalan masuk tipis dari celah pintu. Song Qi berkata hari istirahat masih boleh hanya istirahat. Kamu ingin sepuluh menit di sini, atau kamu ingin melewati matras dan berjalan?
Jiang Heng ingin sepuluh menit itu. Ia bersedia. Jika Song Qi ingin pergi lebih cepat, mereka pergi. Song Qi juga ingin sepuluh menit itu. Mereka bisa berhenti. Song Qi berumur tiga puluh, dan ruangan ini miliknya. Istirahat bukan jadwal, dan bukan sesuatu yang dibayar orang untuk ditonton. Yang mereka bawa hanya air dalam botol, masih dingin dari kulkas rumah.
Song Qi mematikan pengeras suara dan menyisakan satu lampu. Di cermin ada dua orang dengan pakaian mereka sendiri. Song Qi bertanya apakah Jiang Heng mau merapikan bantalan bahu lalu duduk. Jiang Heng ingin merapikannya. Ketika bantalan selesai, kainnya rapi dan berbau sabun, Song Qi berkata ia boleh duduk di sampingnya. Jiang Heng bertanya sekali, karena duduk di samping adalah langkah yang ia ingin dengar. Song Qi menginginkannya. Tangan Jiang Heng tetap di lututnya sendiri sampai Song Qi berkata tangan itu boleh di lutut Song Qi. Song Qi mengatakannya karena ia menginginkannya. Semenit kemudian Song Qi menggeser tangan itu. Cukup untuk matras, katanya. Jiang Heng duduk kembali. Song Qi tersenyum, karena batas itu bekerja sementara lampu menyala dan cermin tidak berbohong.
Mereka tidak tinggal untuk cerita yang bisa dinamai komentar. Song Qi mengunci dari dalam, lalu membuka lagi ketika mereka siap pergi. Mereka keluar lewat pintu samping. Jalan sepi. Angin membawa bau hujan yang belum jatuh. Di bangunannya Song Qi berdiri di bawah lampu dan menanyakan hal yang terpisah, karena berjalan tidak boleh berubah menjadi hal lain hanya karena mereka sudah sampai. Kamu ingin naik untuk minum air? Hanya air, lalu kamu boleh pergi.
Jiang Heng ingin air itu. Ia tidak ingin sisanya dianggap sudah pasti. Di atas, Song Qi menuang dua gelas. Mereka duduk di sofa dengan mantel masih melekat. Song Qi bertanya apakah bersandar boleh. Jiang Heng ingin bersandar. Song Qi menyandarkan dahi di bahunya, lalu duduk tegak dan berkata cukup. Jiang Heng mendengarnya. Song Qi berkata malam ini berakhir pada air. Jika Jiang Heng ingin bertemu besok, ia akan bertanya pagi, dan Song Qi boleh berkata tidak. Tidak besok tidak merusak malam ini.
Sebelum gelas dibilas Song Qi memastikan air tidak mengaburkan akhirnya. Kamu bersedia pergi ketika gelas kosong? Jiang Heng bersedia. Gelas kosong boleh menjadi seluruh akhir. Song Qi sudah bertanya, dan ia sudah menjawab. Ia tidak akan menukar jawaban itu dengan malam yang lebih panjang. Sepuluh menit di matras dan air di atas adalah jenis kesediaan yang sama: disebut, berbatas, dan tetap bisa berhenti. Jiang Heng meletakkan gelasnya. Song Qi mengantarnya ke pintu. Cukup di situ, katanya. Tangga sudah cukup, dan lampu studio yang mereka tinggalkan tetap padam di belakang jalan.
- Pustaka lengkap
- Streamer Lin Wanwan: ponsel ditelungkupkan setelah live
- Pramugari Su Qing: di layover dia menutup gorden sendiri
- Direktur desain Zhou Ningning: tujuh menit pintu terkunci
- Bintang Gu Wan: apartemen pinjaman setelah malam di lokasi
- Pendamping pengantin: setelah resepsi mereka menutup pintu
- Eksekutif emiten: setelah gala, dua rekan sebaya dan teh
- Pemeran utama musikal: malam penutupan, lampu di ruang ganti
- Gaunnya belum selesai dilepas. “Mulai sekarang ini milikmu.”
- Foto hotel | Setelah lembur dia bilang, “Jangan tanya aku pulang.”
- Lampu ruang tamu masih nyala. Tetangga terus mengetuk.
- Pertama kali pasang kamera sendiri, dia tertawa ke bantal.
- Gaun merah | Suaminya merokok di seberang meja
- Cermin berkabut. Dia usap sebentar lalu melihatmu.
- Spa lembur, satu lampu. Lencana dilempar ke samping.
- Catatan janji | Cincin masuk tas sebelum pintu
Jelajahi drama pendek AI
Temukan drama pendek AI dan pratinjau yang sudah tersedia di Huangguo Drama. Pilih genre dan tonton di browser. 18+.
Huangguo Drama · Jelajahi video →