Streamer Lin Wanwan: ponsel ditelungkupkan setelah live
【Fiksi. Semua tokoh dewasa.】
Lin Wanwan berumur dua puluh sembilan. Pasangannya, Zhou Yu, berumur tiga puluh satu. Mereka serumah tiga tahun. Di dalam rumah itu tidak ada yang menggaji yang lain, dan tidak ada yang menjadi bawahan.
Begitu siaran selesai, ia menelungkupkan ponsel di meja, layar menghadap bawah. Komentar langsung ramai. Ada yang bilang dua jam yang kosong pasti menyimpan cerita. Ada yang menyusun malamnya seperti berkas. Ada pula yang mengarang adegan hotel dan menuliskannya seolah pernah ada di dalam kamar.
Manajemen hanya menurunkan satu kalimat malam itu: waktu pribadi, jangan mengarang berkas. Komentar tidak menginginkan kalimat. Mereka menginginkan gosip.
Zhou Yu menyalakan ketel di dapur. Ia bukan pegawai Lin Wanwan, dan ia tidak naik sebagai tamu siaran. Ia merancang buku. Harinya selesai lebih awal daripada siaran. Ia mendengar kursi bergeser, lalu bertanya dari dapur, apakah malam ini masih ingin dijalani seperti yang mereka sebut kemarin.
Lin Wanwan berhenti di ambang pintu. Ia ingin menyelesaikan kalimatnya lebih dulu. Aku bersedia. Kamu juga?
Zhou Yu berkata, ya.
Lin Wanwan bertanya, pelan, apakah mereka boleh berhenti jika malam berubah pikiran. Zhou Yu mengangguk dari dapur. Keduanya sadar penuh; yang mereka minum malam itu hanya teh dan air. Siapa pun boleh berhenti. Berhenti tidak dihukum, dan mereka tidak berutang pidato pada utas. Ketel mulai berdesis. Uap naik tipis sebelum lampu ruangan terasa penuh.
Ia meletakkan jepit rambut di lemari sepatu. Logamnya berdenting sekali. Satu lampu lantai tetap menyala di ruang tamu. Gorden ia tarik sendiri, menyisakan seberkas cahaya di dinding. Gelap penuh membuatnya tegang. Sedikit cahaya sudah cukup, karena dengan cahaya itu wajah Zhou Yu tetap terbaca.
Mereka duduk lama di sofa. Kainnya masih menyimpan hangat siang. Tidak ada yang mengubah jam itu menjadi pertunjukan. Lin Wanwan menceritakan komentar, lalu tertawa sampai bahunya turun. Zhou Yu berkata orang-orang itu tidak bisa melihat ruangan ini. Ia menjawab, biar saja ruangan ini tetap tidak terlihat. Di luar, seseorang membereskan gerobak. Logam berdentum dua kali. Keduanya tetap duduk.
Lin Wanwan bertanya apakah tangan Zhou Yu boleh bertumpu di samping tangannya. Zhou Yu ingin itu. Telapaknya hangat, dan ia tidak menggesernya lebih jauh dari yang diminta. Lin Wanwan kemudian bertanya tentang ciuman yang ringan. Zhou Yu ingin ciuman itu juga. Bibir mereka bertemu sebentar, seperti menutup satu kalimat. Ketika Lin Wanwan menggeser bahunya, tangan Zhou Yu kembali ke lututnya sendiri. Ia tidak meminta alasan. Geseran itu sudah jelas.
Menjelang siang utas itu masih naik. Seseorang bersumpah melihat Lin Wanwan masuk hotel. Yang lain mencocokkan punggung orang asing dengan mantelnya. Ia tidak membalas satu per satu. Di bawah unggahan yang disematkan ia menulis satu kalimat: setelah siaran, ponsel ditelungkupkan. Sisa malam itu milikku.
Zhou Yu membaca kalimat itu dan mengembalikan ponsel, layar tetap menghadap bawah. Ia tidak menyusun naskah untuk malam berikutnya. Ia hanya berkata bahwa jika Lin Wanwan masih ingin bentuk yang sama, ia ada di dapur. Lin Wanwan ingin itu. Kalimat yang dulu mereka ulang tidak perlu diucapkan lagi. Yang perlu hanya ini: siapa yang lelah, mengatakannya, dan yang lain mendengar.
Ia melihat lagi jadwal yang diisi orang asing. Kotak pertama hanya menyebut siaran sudah selesai. Semua kotak sesudahnya adalah imajinasi orang lain. Satu versi mengirimnya ke seberang kota. Versi lain ke tepi sungai. Versi ketiga mengatakan ia tidak pulang sama sekali. Alamat-alamat itu saling bertengkar, tetapi nadanya sama-sama yakin. Lin Wanwan menutup halaman itu. Mereka menyelesaikan malamnya tanpa pernah bertanya pintu yang mana miliknya.
Zhou Yu menuang sisa air ketel ke wastafel. Airnya berbunyi singkat, lalu sunyi. Mereka kembali ke sofa. Lampu lantai menumpuk bayangan di gorden. Bayangan tidak bisa dipotong lalu diberi takarir. Lin Wanwan tertawa dan berkata komentar mungkin sedang memilih mantel yang mana yang ia kenakan. Zhou Yu berkata, biar mereka memilih. Mantel ada di gantungan. Orangnya ada di sofa. Mereka hanya bisa benar tentang salah satu dari dua hal itu. Bau nasi yang tersisa dari makan malam kemarin masih samar di dapur, dan bau itu lebih nyata daripada hotel yang dikarang.
Lin Wanwan memendekkan kalimat yang disematkan. Ia tidak sedang mengajari komentar. Ia ingin batas itu cukup pendek untuk dijaga. Zhou Yu membaca dan berkata lebih pendek lebih baik. Versi panjang mengundang lebih banyak kotak kosong. Versi mereka sendiri boleh tetap panjang, tetapi panjangnya ada di ruangan, bukan di alur yang dibuat untuk penonton.
Ia meletakkan tangan Zhou Yu di samping sakelar lampu dan tidak menekannya. Sakelar ada di sini, katanya, tetapi cahaya boleh tetap ada jika Zhou Yu juga menginginkannya. Zhou Yu ingin cahaya itu tetap. Selama lampu menyala, ia bisa mendengar Lin Wanwan, termasuk jika ia hanya ingin duduk diam.
Sebuah pintu tertutup di lantai bawah dan koridor menjadi sunyi. Lin Wanwan menyandarkan dahinya di bahu Zhou Yu. Jika nanti ia hanya ingin memejamkan mata sebentar dan duduk diam, jangan memulai adegan baru untuk menyelesaikan cerita. Zhou Yu tidak akan melakukan itu. Memejamkan mata bukan jawaban, dan diam juga bukan undangan. Jika besok Lin Wanwan masih ingin ponsel ditelungkupkan, Zhou Yu tetap akan ada di dapur, dengan ketel, menunggu ia masuk.
Hari Kamis ia siaran lagi. Ketika selesai, ia melakukan hal yang sama pada ponsel. Kayu meja bergetar sekali, lalu diam. Komentar melakukan apa yang biasa dilakukan komentar. Di dalam rumah tetap hanya dua orang, lampu tetap menyala, dan sisa malam dibiarkan di antara mereka. Sebuah desas-desus boleh ramai dan tetap hanya desas-desus. Rumah itu tidak berutang denah pada utas.
Bagian dua
Jumat mulai dari tempat siaran Kamis berakhir. Ponsel sudah telungkup di meja ketika Lin Wanwan meletakkan kunci. Logam kunci beradu dengan kayu, lalu diam. Zhou Yu ada di dapur bersama ketel, dan ia tidak bertanya pada komentar apa yang sudah mereka putuskan. Ia bertanya pada Lin Wanwan.
Kamu masih ingin malam ini seperti yang kita namai, katanya. Lin Wanwan ingin menyelesaikan kalimat lebih dulu. Ia bersedia. Zhou Yu juga ingin malam itu. Mereka tidak mengulang daftar yang sama. Satu jawaban yang jelas sudah cukup, dan siapa pun masih boleh berhenti jika malam berubah, tanpa pidato dan tanpa denah untuk utas.
Mereka memasak nasi dan sepanci sayur. Minyak di wajan berbunyi kecil. Lin Wanwan bercerita ada komentar yang menebak hotel di sisi barat kota. Ia tertawa sekali, lalu melepaskan kalimat itu seperti meletakkan sendok. Zhou Yu berkata nasinya di sini dan hotelnya tidak. Uap nasi menempel di jendela dapur. Jendela itu bukan layar.
Lin Wanwan bertanya apakah tangan Zhou Yu boleh bertumpu di meja di samping tangannya sementara panci selesai. Zhou Yu ingin tangannya di sana. Ketika panci selesai Lin Wanwan menggeser tangannya dan berkata itu sudah cukup untuk dapur. Zhou Yu menarik tangannya kembali. Berhenti yang kecil tetap terhitung. Sayur di piring masih panas, dan mereka makan tanpa menyalakan siaran ulang.
Setelah makan Lin Wanwan bertanya apakah berjalan sampai ujung blok adalah sesuatu yang Zhou Yu inginkan. Zhou Yu ingin berjalan. Jika Lin Wanwan ingin berbalik di sudut, mereka berbalik. Lin Wanwan memakai mantel. Ponsel tetap telungkup di rumah. Ia suka jalan tidak punya tombol untuk menyegarkan halaman dan menemukan mereka. Tangga gedung berbau sabun lantai. Di luar, anginnya biasa, bukan angin yang ditulis komentar.
Di sudut Lin Wanwan berkata, berhenti. Zhou Yu berhenti. Mereka berdiri di bawah lampu jalan cukup lama untuk melihat bahwa tidak ada yang sedang memainkan reuni. Cahaya lampu membuat mantel Lin Wanwan terlihat abu-abu, bukan warna yang dikira utas. Lin Wanwan bertanya apakah Zhou Yu masih ingin naik. Zhou Yu ingin naik. Lin Wanwan masih ingin itu. Jalan pulang lebih pendek karena mereka tidak lagi membuktikan apa pun pada desas-desus.
Di atas, lampu lantai ada di tempat mereka tinggalkan. Lin Wanwan meletakkan tangan Zhou Yu di samping sakelar dan tidak menekannya. Kamu masih ingin lampu ini, tanyanya. Zhou Yu ingin lampu itu. Selama menyala, ia bisa mendengar Lin Wanwan. Jika nanti Lin Wanwan hanya ingin memejamkan mata dan duduk diam, ia tidak akan memulai alur baru. Memejamkan mata bukan ya yang berikutnya. Lin Wanwan berumur dua puluh sembilan, dan Jumat juga tidak berutang sekuel pada utas.
Mereka membaca sebentar di sofa. Halaman buku Zhou Yu berbau kertas. Kepala Lin Wanwan menemukan bahu Zhou Yu. Zhou Yu bertanya apakah bobot itu baik-baik saja. Lin Wanwan ingin bersandar. Beberapa saat kemudian ia berkata jeda, dan ia duduk untuk minum air. Gelasnya berdenting di tepi meja. Zhou Yu menunggu tanpa mengisi jeda itu dengan rencana. Lin Wanwan ingin bersandar lagi. Zhou Yu ingin itu juga. Tidak ada di ruangan itu yang diteruskan. Kalimat yang disematkan tetap pendek. Malam mereka sendiri tinggal di rumah, dan di situlah mereka bermaksud menyimpannya.
Sebelum lampu dapur dimatikan, Lin Wanwan mencuci dua piring. Zhou Yu mengeringkan panci. Mereka tidak membahas utas lagi. Ketel yang sudah kosong ia letakkan terbalik di rak, supaya besok pagi airnya baru. Lin Wanwan menekan ponsel sekali, memastikan layar tetap menghadap kayu. Jumat selesai di situ: nasi, jalan pendek, lampu yang mereka biarkan menyala, dan tidak ada denah yang dikirim ke mana pun.
Sebelum mereka kembali ke sofa, Lin Wanwan membuka jendela sejengkal. Udara malam masuk, membawa bau jalan yang basah, lalu ia menutupnya sampai hanya seberkas yang sama dengan celah gorden. Zhou Yu menuang air terakhir ke gelasnya dan bertanya apakah itu cukup. Lin Wanwan mengangguk pelan. Cukup, katanya, dan besok ketel boleh dinyalakan lagi jika ia masih ingin bentuk malam yang sama. Zhou Yu akan menunggu di dapur, bukan di kolom komentar.
Ia menggantungkan mantel di tempat yang sama. Lengan bajunya masih dingin dari jalan. Di meja, ponsel tidak bergetar karena layar menghadap kayu. Lin Wanwan mengetuk punggung ponsel sekali, seperti memastikan batas itu masih ada, lalu duduk. Zhou Yu memutar kenop kompor yang sudah padam, hanya untuk mendengar kliknya. Klik itu kecil. Rumah itu tetap tidak berutang denah, dan mereka tidak menambah kalimat pada unggahan yang sudah mereka pendekkan.
- Pustaka lengkap
- Kreator gym Song Qi: setelah tutup, hanya dia dan tunangannya
- Pramugari Su Qing: di layover dia menutup gorden sendiri
- Direktur desain Zhou Ningning: tujuh menit pintu terkunci
- Bintang Gu Wan: apartemen pinjaman setelah malam di lokasi
- Pendamping pengantin: setelah resepsi mereka menutup pintu
- Eksekutif emiten: setelah gala, dua rekan sebaya dan teh
- Pemeran utama musikal: malam penutupan, lampu di ruang ganti
- Gaunnya belum selesai dilepas. “Mulai sekarang ini milikmu.”
- Foto hotel | Setelah lembur dia bilang, “Jangan tanya aku pulang.”
- Lampu ruang tamu masih nyala. Tetangga terus mengetuk.
- Pertama kali pasang kamera sendiri, dia tertawa ke bantal.
- Gaun merah | Suaminya merokok di seberang meja
- Cermin berkabut. Dia usap sebentar lalu melihatmu.
- Spa lembur, satu lampu. Lencana dilempar ke samping.
- Catatan janji | Cincin masuk tas sebelum pintu
Jelajahi drama pendek AI
Temukan drama pendek AI dan pratinjau yang sudah tersedia di Huangguo Drama. Pilih genre dan tonton di browser. 18+.
Huangguo Drama · Jelajahi video →