Eksekutif emiten: setelah gala, dua rekan sebaya dan teh
【Fiksi. Semua tokoh dewasa.】
Tang Wei berumur empat puluh satu, eksekutif di sebuah perusahaan tercatat. Pei Chuan berumur empat puluh tiga, eksekutif di perusahaan tercatat yang lain. Tidak ada perusahaan yang memiliki perusahaan yang lain. Setelah jamuan, gelas di balai masih menunggu dibereskan. Mereka tidak buru-buru pergi. Ruang kecil di hotel masih terbuka, dan tehnya panas.
Kemudian komentar mengubah jam itu menjadi mobil dengan lampu yang padam. Penulisnya tidak punya pelat dan punya banyak kata sifat. Bagian komunikasi bertanya kepada Tang Wei apakah ia ingin sangkalan. Tang Wei berkata, menyangkal mobil yang tidak ada adalah cara memberinya pelat.
Di ruang kecil itu hanya mereka berdua. Pei Chuan membenarkan cangkirnya dan berkata ia bisa pergi sekarang. Jika kamu hanya ingin agenda selesai, kita selesaikan agenda.
Tang Wei ingin ia tinggal. Agendanya sudah selesai di balai, dan pertanyaan ini bukan sisa dari balai. Kamu bersedia tinggal untuk teh yang masih panas ini?
Pei Chuan menjawab ya. Aku ingin tinggal. Ia bersedia. Keduanya sadar jernih. Jabatan mereka setara, dan tidak ada gelar di meja ini yang bisa mengubah malam menjadi tugas. Siapa pun boleh berhenti. Berhenti tidak dihukum. Jika Tang Wei mengakhiri, Pei Chuan meletakkan cangkir. Jika Pei Chuan berkata malam ini cukup, Tang Wei membiarkannya cukup.
Tang Wei bertanya, jika ia hanya ingin teh, bicara, lalu masing-masing pergi dengan mobilnya sendiri, apakah itu sudah utuh. Pei Chuan ingin malam yang seperti itu. Teh dan bicara boleh menjadi seluruhnya. Tidak ada langkah yang dianggap sudah termasuk hanya karena ruangan masih terbuka.
Uap mengenai dagu Tang Wei ketika ia menuang. Ia meletakkan mantel di kursi dan bertanya apakah ia boleh duduk di samping Pei Chuan. Pei Chuan ingin ia di samping, di kursi yang masih ada jarak satu lengan. Setelah duduk, Tang Wei bertanya apakah tangannya boleh menutup tangan Pei Chuan di atas meja. Pei Chuan ingin itu, karena Tang Wei yang menginginkan, bukan karena jamuan belum dibereskan. Tang Wei mengatakannya lagi dengan lebih pendek. Aku ingin itu.
Jari mereka bertemu, hangat dari cangkir, lalu terpisah karena Tang Wei berkata jeda. Pei Chuan mengangkat tangannya dan meletakkannya di tepi meja, di samping teko. Tang Wei menatapnya. Ia hanya ingin tahu kata itu masih ada di ruangan yang kecil ini, dengan lampu yang tidak mereka matikan. Mereka boleh lanjut minum. Pei Chuan masih bersedia. Tang Wei juga masih ingin. Tidak ada yang mengulang pertanyaan yang baru saja dijawab.
Dalam hening sesudahnya, teko berdetik sekali, logam pada logam, pelan. Tidak ada orang lain yang masuk. Koridor di luar tetap sunyi. Tang Wei perlu melihat wajah Pei Chuan, bukan siluet. Pei Chuan perlu hal yang sama. Anggukan yang tidak terlihat tidak akan ia hitung sebagai jawaban.
Tang Wei mengangkat tutup teko untuk melepas panas. Ia ingin kata sifat dari komentar tetap tinggal di balai, bersama gelas yang belum dibereskan. Pei Chuan berkata kata sifat datang cepat karena jam yang kosong mudah diisi orang yang tidak ada di ruangan. Mereka tidak kosong. Mereka minum teh. Besok dua perusahaan mereka mengadakan rapat masing-masing, dengan agenda yang sudah tercetak. Malam ini tidak ada yang menjadi tugas yang lain, dan tidak ada rekening yang menanggung cangkir ini.
Tang Wei bertanya apakah Pei Chuan keberatan jika kalimat pendek dari bagian komunikasi dibaca orang sebagai menghindar. Pei Chuan tidak keberatan. Menghindar adalah cara baca mereka. Cara baca di meja ini lain: mereka bertanya, mereka menjawab, dan siapa pun boleh mengakhiri tanpa pernyataan. Jika Tang Wei ingin kalimat itu masuk ke dalam siaran, ia tidak setuju. Makin sebuah kalimat terdengar seperti alur, makin alur itu milik orang yang tidak duduk di sini. Tang Wei berkata mereka tidak akan menuliskannya. Kata-kata selesai di meja ini, lalu selesai.
Tang Wei menggeser kursinya satu jengkal lebih dekat. Kaki kursi berderit singkat di karpet. Ia menjeda sebelum bertanya. Jengkal ini boleh? Pei Chuan ingin jarak itu. Lebih dekat lagi harus ditanyakan sebagai langkah lain. Tang Wei ingin satu jengkal lagi, lalu jarak yang masih mudah untuk bicara tanpa berbisik. Pei Chuan bersedia mendengar dari jarak itu. Ia ingin mendengar Tang Wei dengan jelas. Mendengar dengan jelas lebih penting daripada rute mobil mana pun yang ditulis orang di luar.
Mereka berbicara tentang kalender masing-masing. Ada proyek yang tidak ada hubungannya dengan malam ini, nama vendor, tanggal yang sudah dikunci. Lalu mereka meletakkan proyek itu, seperti menutup map. Tang Wei ingin menguji kata itu sekali, dengan sesuatu yang kecil. Tolong isi cangkir, lalu kita akhiri pada cangkir yang penuh. Pei Chuan mengangkat teko. Ia berhenti pada menuang ketika permukaan teh menyentuh garis yang ia tentukan sendiri. Cerat dipalingkan. Tetes terakhir jatuh kembali ke teko, bukan ke meja.
Akhir itu bukan pertengkaran. Cangkir penuh adalah akhir yang bisa dilihat. Lain kali, jika Tang Wei masih ingin teh, ia bisa bertanya apakah Pei Chuan bersedia duduk lagi. Pei Chuan akan bertanya padanya dengan cara yang sama. Siapa yang ingin mengakhiri, ia yang mengatakannya, dan yang lain mendengar.
Di luar, seseorang mendorong kereta gelas. Rodanya pelan di karpet lorong, gelas beradu pelan di dalam rak. Mereka menunggu sampai roda itu jauh, sampai suara itu menjadi milik lantai lain, sebelum membuka pintu. Mereka berjalan ke lift yang berbeda. Tang Wei ke kiri, Pei Chuan ke kanan. Tidak ada yang berbalik untuk memainkan perpisahan bagi orang yang mungkin melihat.
Dua mobil datang berurutan di tangga depan. Lampu hotel memantul di cat pintu. Tang Wei berdiri di undakan dan tidak memegang lengan Pei Chuan. Malam ini ia tutup pada teh. Tehnya sudah habis di teko, dan kata itu sudah diuji pada cangkir. Jika Pei Chuan berubah pikiran dan ingin sepuluh menit lagi, ia harus bertanya lagi, dari awal. Tang Wei mungkin mengiyakan. Ia mungkin juga menolak. Keduanya adalah jawaban.
Pei Chuan tidak akan bertanya lagi malam ini. Sepuluh menit tambahan akan mengendurkan akhir yang sudah terlihat di cangkir. Ia suka mengakhiri di tempat yang sudah mereka sepakati, bukan di tempat yang digeser karena mobil belum datang. Mereka membiarkan ujian itu terhitung.
Tang Wei mengangguk dan naik ke mobilnya lebih dulu. Kursi belakangnya dingin. Sebelum pintu tertutup ia berkata rapat besok akan memakai suara kerja mereka, suara yang dipakai di meja rapat, bukan di meja teh. Pei Chuan menjawab dari trotoar bahwa ia mengerti. Suara kerja tidak menghapus batas yang pribadi. Ia hanya mengingatkan bahwa gelar tidak bisa dipakai untuk membeli jam yang baru saja berakhir. Setelah mobil pergi, tangga depan hanya menyisakan lampu hotel sendiri, dan hening cangkir yang sudah kosong di ruangan yang mereka tinggalkan.
Malam itu, setelah lampu rumah menyala, Pei Chuan mengirim satu pertanyaan. Apakah kata itu masih berlaku. Tang Wei menjawab bahwa kata itu berlaku. Lain kali, jika mereka bertemu, mereka tetap bertanya lebih dulu. Pei Chuan bertanya padanya. Ia bertanya pada Pei Chuan. Teh boleh diisi lagi. Bicara boleh selesai pada cangkir. Tidak ada yang menuliskan jabatan yang lain ke dalam syarat.
Bagian dua
Kamis setelah pesan itu, mereka memakai suara kerja di pagi hari dan suara mereka sendiri ketika matahari sudah rendah. Kedai teh itu bukan ruang tamu hotel. Tidak ada nama perusahaan di struk, dan tidak ada yang memasukkan cangkir ini ke rekening. Pintunya terbuka ke jalan. Bel di atas pintu berbunyi sekali ketika Tang Wei masuk, lalu diam.
Tang Wei tiba lebih dulu. Ia tidak memesan untuk Pei Chuan. Menu tetap tertutup di sisi meja yang kosong, supaya pilihan itu milik orang yang belum datang. Ketika Pei Chuan duduk, mantelnya ia gantung sendiri. Tang Wei berkata agenda hari itu sudah selesai di dua gedung yang berbeda. Jika kamu hanya ingin mengangguk lalu pergi, pergilah. Kamu bersedia tinggal untuk satu teko?
Pei Chuan ingin teko itu. Kesediaannya untuk duduk sudah cukup jelas, dan ia mengatakannya. Tidak ada gelar yang mengubah teh menjadi penugasan. Mereka bisa berhenti. Jika Tang Wei mengakhiri, ia meletakkan cangkir dan itu cukup. Jika ia sendiri yang mengakhiri, ia ingin Tang Wei membiarkan malam berakhir di kedai, bukan di mobil.
Tang Wei ingin ia di sini karena ia yang bertanya, bukan karena balai ramai minggu lalu. Tang Wei, yang berumur empat puluh satu, bisa mendengar beda antara sopan santun dan keinginan. Sopan santun mengangguk. Keinginan disebut.
Teh yang datang biasa saja, satu teko, dua cangkir, tanpa nama yang manis di kartu. Tang Wei bertanya apakah ia boleh menggeser kursinya satu jengkal lebih dekat. Kaki kursi bergeser di lantai kayu, lebih keras daripada karpet hotel. Pei Chuan ingin kursi itu lebih dekat. Lebih dekat lagi harus ditanyakan lagi. Tang Wei ingin satu jengkal lagi, lalu jarak yang membuat bicara mudah tanpa mencondongkan badan. Pei Chuan bersedia pada jarak itu. Tangan mereka bertemu di meja dan bertumpu di situ, di samping serbet. Tang Wei berkata jeda. Pei Chuan mengangkat tangannya. Jeda itu kata yang sama seperti di hotel, dan tetap terhitung di kedai yang pintunya tidak terkunci. Mereka boleh membiarkan tangan bertumpu bersama lagi. Pei Chuan bertanya sekali, karena tangan yang kembali adalah langkah yang ia ingin dengar di tempat ini. Tang Wei menginginkannya. Ia mengangguk, dan tangannya kembali.
Mereka tidak membahas harga saham. Kertas di dinding kedai adalah tulisan harga daun, bukan grafik. Mereka berbicara tentang kereta yang mungkin Pei Chuan naiki pada Sabtu, pagi, ke kota yang sudah ada di kalendernya sebelum minggu ini. Tang Wei berkata ia bukan bagian dari rencana itu kecuali ia sendiri berkata ia ingin tempat duduk. Pei Chuan tidak akan menambahkan namanya karena sopan santun. Sopan santun bukan jawaban yang bisa ditukar dengan tiket. Tang Wei mendengar bedanya, dan ia tidak tersinggung. Pei Chuan memang suka mengakhiri di tempat yang mereka sepakati, termasuk perjalanan yang bukan miliknya untuk diisi.
Ketika teko habis, tutupnya berbunyi kosong ketika Tang Wei menyentuhnya. Ia meletakkan cangkir. Cukup, katanya. Pei Chuan juga meletakkan cangkirnya, sejajar, dan tidak meminta sepuluh menit lagi. Menit tambahan akan mengendurkan akhir yang sudah terlihat di dasar teko. Tang Wei setuju. Mereka membayar masing-masing. Koin tidak mereka campur.
Di luar, mereka berjalan ke mobil yang berbeda, diparkir di dua arah. Sebelum pintu Tang Wei tertutup, ia berkata rapat Jumat tetap memakai suara kerja. Pei Chuan mengangguk dari sisi jalannya. Suara kerja tidak mencabut batas yang sudah mereka ucapkan di kedai. Ia menjaga gelar di luar syarat, di tempat gelar memang berguna. Kedai menyimpan cangkir kosong di baki pelayan. Dua sejawat menyimpan pertanyaan yang sudah mereka jawab.
Dari mobil, setelah lampu jalan berganti, Tang Wei mengirim satu kalimat. Akhir di kedai itu masih terhitung. Kereta Sabtu milikmu, kecuali aku berkata aku ingin tempat duduk. Pei Chuan menjawab bahwa ia tidak akan menyimpan tempat karena sopan santun. Jika Tang Wei ingin naik, ia bertanya, dan pertanyaan itu berdiri sendiri. Jika tidak, malam yang baru mereka akhiri sudah utuh. Tang Wei membacanya sekali dan membiarkan layar gelap. Dua sejawat bisa berbagi satu teko dan tetap pulang dengan mobil yang berbeda.
- Pustaka lengkap
- Direktur desain Zhou Ningning: tujuh menit pintu terkunci
- Streamer Lin Wanwan: ponsel ditelungkupkan setelah live
- Pramugari Su Qing: di layover dia menutup gorden sendiri
- Bintang Gu Wan: apartemen pinjaman setelah malam di lokasi
- Kreator gym Song Qi: setelah tutup, hanya dia dan tunangannya
- Pendamping pengantin: setelah resepsi mereka menutup pintu
- Pemeran utama musikal: malam penutupan, lampu di ruang ganti
- Spa lembur, satu lampu. Lencana dilempar ke samping.
- Satu lampu kantor. Kemeja dibuka, duduk di meja.
- Foto hotel | Setelah lembur dia bilang, “Jangan tanya aku pulang.”
- Lampu ruang tamu masih nyala. Tetangga terus mengetuk.
- Pertama kali pasang kamera sendiri, dia tertawa ke bantal.
- Gaun merah | Suaminya merokok di seberang meja
- Cermin berkabut. Dia usap sebentar lalu melihatmu.
- Catatan janji | Cincin masuk tas sebelum pintu
Jelajahi drama pendek AI
Temukan drama pendek AI dan pratinjau yang sudah tersedia di Huangguo Drama. Pilih genre dan tonton di browser. 18+.
Huangguo Drama · Jelajahi video →