Pendamping pengantin: setelah resepsi mereka menutup pintu
【Fiksi. Semua tokoh dewasa.】
Shen Yi berumur dua puluh sembilan. Hari itu ia pendamping pengantin. Lu Shen berumur tiga puluh satu, pendamping dari pihak lain. Mereka saling kenal tujuh tahun. Tidak ada yang menjadi kerabat yang lain, dan tidak ada yang menggantungkan hidup pada yang lain. Setelah pasangan pengantin pergi, lampu jamuan padam satu per satu. Seorang teman meninggalkan ruang istirahat untuk mereka dan berkata, jika kalian masih ingin bicara, bicaralah di sini.
Keesokan hari seseorang di obrolan lama berkata mereka berdua tidak langsung pergi. Penulisnya tidak pernah masuk ke ruangan itu. Kalimatnya tetap penuh. Shen Yi melihatnya dan tidak berdebat siapa yang lebih dulu sampai ke lift.
Shen Yi yang menutup pintu. Lu Shen berdiri di dalam dengan tangan di samping tubuh. Ia berkata ia bisa meminta meja depan membuka kamar lain, atau ia bisa pulang. Kamu boleh memutuskan, katanya, tetapi aku juga harus mengatakan keputusanku sendiri.
Shen Yi ingin ia tinggal. Pertanyaannya pendek, di bawah lampu dinding yang masih hangat. Kamu bersedia tinggal di ruangan ini, sebagai diri sendiri, bukan sebagai sisa jamuan?
Lu Shen ingin tinggal. Ia bersedia. Bukan karena pakaian pesta masih melekat di bahu. Karena Shen Yi bertanya, dan karena ia juga ingin ada di sini. Keduanya sadar penuh. Yang nanti mereka minum hanya air putih dari teko di sudut. Siapa pun boleh berhenti. Berhenti tidak dihukum, dan tidak ada penjelasan yang harus diserahkan pada obrolan lama.
Shen Yi bertanya, jika mereka hanya melepas sepatu dan duduk sampai lampu lorong hotel meredup, apakah itu sudah malam yang utuh. Lu Shen ingin malam yang seperti itu. Duduk boleh menjadi seluruhnya. Jika Shen Yi ingin sendiri, ia pergi sekarang, dengan sepatu masih di tangan, tanpa pidato untuk siapa pun di luar pintu.
Shen Yi melepas anting dan meletakkan keduanya di baki. Logamnya dingin. Satu sisi berdetik pelan di atas nampan, lalu diam. Lampu dinding tetap menyala karena ia yang memilihnya. Aku perlu melihat wajahmu, katanya. Anggukan yang tidak kulihat adalah anggukan yang tidak kuambil.
Lu Shen menjawab ya. Aku melihatmu. Ia juga ingin mendekat. Jika Shen Yi tidak ingin itu, ia tetap di kursinya, tangan di samping tubuh, seperti ketika pintu baru tertutup. Shen Yi ingin ia mendekat. Sejauh bahu, dulu. Jika tangannya sampai ke bahu, ia menjeda dan menunggu Shen Yi menyebut langkah berikutnya.
Ketika telapaknya sampai ke bahu, ia memang menjeda. Kain gaun pesta terasa kaku di situ, sisa sematan yang sudah dilepas. Shen Yi menatapnya dan mengangguk. Ia ingin ciuman yang singkat. Ciuman itu singkat, seperti menutup satu kalimat, dan wanginya masih sabun dari ruang rias, bukan wewangian yang disemprotkan untuk foto. Lu Shen mundur setengah langkah. Jarak itu kembali dengan sendirinya, dan Shen Yi tersenyum karena kata yang belum ia ucapkan ternyata sudah cukup untuk menahan langkah.
Ia ingin menguji kata itu sekali, supaya ia tahu kata itu hidup di luar kalimat. Berhenti, katanya, pelan. Lu Shen menahan tangannya di udara dan tidak menyelesaikan jarak. Senyum Shen Yi menjadi lebih kecil. Ujiannya lulus. Ia masih ingin dekat, dan ia mengatakannya sebagai langkah yang baru, bukan sebagai sisa dari ciuman tadi.
Lampu dinding itu kuning, bukan putih. Di cahayanya, jahitan gaun yang sudah longgar di bahu terlihat biasa, bukan seperti foto. Shen Yi memutar anting sekali di baki supaya kaitnya tidak menggores, lalu membiarkannya. Lu Shen tidak menyentuh baki. Benda itu milik Shen Yi, dan malam ini ia hanya menyentuh yang sudah disebut.
Sesudah itu pintu tetap tertutup. Bukan supaya ada gambar yang bisa berkeliling. Supaya dua orang dewasa punya ruangan tanpa narator. Lampu dinding membuat anting di baki sangat jelas, dua titik logam di atas nampan yang kosong selain itu. Mereka bicara dengan suara yang biasa dipakai di luar pesta: nama stasiun, kereta pagi, pekerjaan yang tidak perlu dirinci di sini. Tidak ada yang menuliskan keraguan yang lain sebagai utang maaf.
Shen Yi ingin malam ini terdengar seperti cara mereka biasa bicara selama tujuh tahun, bukan sisa getar jamuan. Lu Shen melipat mantelnya di sandaran kursi. Dalam tahun-tahun itu setiap pertemuan masih berakhir dengan jalan pulang. Tidak ada yang ditahan di ruang istirahat ini, dan tidak ada nafkah yang bergantung pada pintu yang baru saja tertutup.
Shen Yi bertanya apa yang akan Lu Shen katakan jika besok teman bertanya apakah mereka pergi bersama. Lu Shen akan berkata mereka orang dewasa dan mereka bicara. Rincian tidak untuk dipinjamkan. Ia tidak akan menambah adegan yang tidak diminta orang yang bertanya. Shen Yi akan mengatakan hal yang sama, atau ia akan diam, seperti ia diam di obrolan pagi nanti. Jika seseorang menginginkan jadwal, jadwalnya pendek: ia yang menutup pintu, ia yang membiarkan lampu menyala, dan kesediaan Lu Shen diucapkan dengan suaranya sendiri.
Lu Shen memeriksa jarak lagi. Ia ada di kursi ini, bukan di sofa. Jika Shen Yi menginginkannya di sofa, Shen Yi bisa mengatakannya. Jika Shen Yi menginginkannya tetap seperti ini, itu juga jawaban yang utuh. Shen Yi ingin tetap seperti ini dulu. Aku ingin memegang pergelangan tanganmu, katanya. Lu Shen ingin tangannya dipegang. Nadi di situ terasa biasa, tidak buru-buru. Shen Yi tidak bergerak lebih tinggi dari pergelangan itu. Ia berkata jeda, karena ia ingin tahu apakah bahunya tegang. Lu Shen melepaskan. Tegang boleh ada. Tegang tidak berutang lanjutan pada siapa pun.
Beberapa saat kemudian Shen Yi berkata bahunya sudah turun. Lu Shen boleh memegang pergelangan tangannya lagi, di tempat yang sama, dengan ibu jari di atas nadi. Jika Shen Yi menatap pintu, malam berakhir di situ, dan itu bukan kekecewaan. Lu Shen berkata tatapan ke pintu adalah isyarat yang cukup. Ia juga boleh menatap pintu. Dua orang yang memilih mengakhiri lebih mirip diri mereka daripada dua orang yang terus mendorong kalimat sampai kehabisan.
Di luar, ruang jamuan sudah gelap penuh. Kursi ditumpuk. Mereka tidak pergi menghitung gelas. Gelas milik hotel. Yang milik ruangan ini sudah diucapkan: keduanya bersedia, dan siapa pun boleh mengakhiri tanpa pidato untuk obrolan.
Lift sampai ke lobi lalu naik lagi, karena Shen Yi lupa anting. Bunyi lift itu pendek, satu nada, lalu pintu geser. Lu Shen ikut dan berdiri di ambang ruang istirahat. Ia bisa menunggu di koridor, katanya, supaya pintu yang terbuka tidak menjadi alasan baru. Shen Yi berkata, masuk. Hanya untuk anting. Lalu kita pergi. Batasnya adalah kalimat yang ia ucapkan sekarang. Benda yang terlupa tetap hanya benda.
Anting ada di baki, keduanya, persis di tempat ia meletakkannya. Shen Yi memakainya. Kaitnya dingin di daun telinga. Ia menatap Lu Shen dan berterima kasih karena Lu Shen tidak mengubah benda yang terlupa menjadi alasan untuk tinggal lebih lama. Lu Shen berkata terlupa hanyalah terlupa. Ia tidak akan meregangkan malam dengan alur semacam itu. Shen Yi sudah menutup pintu sekali malam ini, dan ia bisa membukanya lagi lalu pergi tanpa menjelaskan pada lobi.
Mereka turun sekali lagi. Wangi lobi masih ada, campuran karpet dan bunga yang sudah layu di meja, dan hampir tidak ada orang. Shen Yi ingin mereka berpisah di tepi jalan. Lu Shen setuju. Angin di luar lebih dingin daripada ruang istirahat. Ketika mobil datang, lampu kecilnya menyapu trotoar, dan ia tidak ikut naik. Ia mengangkat tangan, seperti teman yang sudah sampai di tempat ia bisa pergi sendiri. Obrolan kelompok masih tumbuh di ponsel yang tidak mereka buka. Yang tumbuh bukan perjalanan lift ini.
Pagi hari Shen Yi mengirim ucapan biasa kepada pasangan pengantin. Selamat, tulisnya, dan semoga hari ini tenang. Ia tidak menyebut ruang istirahat, tidak menyebut anting, tidak menyebut lampu dinding. Di lift kantor, Lu Shen bertanya apakah ia harus menjawab obrolan lama. Shen Yi berkata, tidak. Jika mereka menjelaskan, seseorang akan meminta rincian yang tidak dipinjamkan. Rincian itu bukan untuk mereka.
Lu Shen bertanya, dan untuk kita? Shen Yi berkata mereka sudah saling bertanya, dan jawaban itu masih berdiri. Lain kali, jika ia ingin bertemu, ia menanyakan apakah Shen Yi ingin. Shen Yi akan bertanya padanya. Pernikahan itu selesai. Malam mereka bukan lampiran dari pernikahan itu.
Bagian dua
Sepuluh hari setelah jamuan, mereka bertemu karena Lu Shen bertanya dan Shen Yi menjawab, bukan karena ruang istirahat dibiarkan terbuka. Tujuh tahun saling kenal tidak mereka bawa sebagai tiket. Tidak ada nafkah yang digantungkan pada sore ini. Upacara itu sudah selesai. Sore ini bukan lampirannya. Kafe di hari kerja itu terang. Jendela memantulkan trotoar, dan cangkir berdenting di meja sebelah yang tidak mengenal mereka.
Lu Shen pernah menulis bahwa ia ingin bertemu pada hari kerja, di kafe, jika Shen Yi ingin. Jika tidak, ia tidak akan datang ke bangunan tempat Shen Yi bekerja. Shen Yi pernah menulis bahwa ia bersedia, dan bahwa pertemuan itu berakhir pada jam yang ia sebut. Lu Shen juga boleh menyebut jamnya. Tidak ada yang membawa undangan pernikahan ke dalam tas.
Shen Yi menyimpan mantel di kursi dan ingin kalimat sebelum cangkir. Kamu masih ingin ada di sini? Lu Shen ingin duduk. Kesediaannya ia ucapkan tanpa menoleh ke pintu. Ia tidak di sini karena setelan pesta kebetulan pas. Ia di sini karena Shen Yi menginginkan hari kerja ini. Shen Yi, yang berumur dua puluh sembilan, bisa menutup pertemuan pada cangkir pertama tanpa berutang ucapan yang lebih lembut. Mereka bisa berhenti kapan saja. Kata itu cukup di kafe ini seperti cukup di ruangan yang lampunya dinding.
Kopi datang, panas, tanpa yang lain di gelas. Mereka berbicara tentang hal biasa: kereta yang terlambat dua menit, buku yang tidak Shen Yi selesaikan, dan obrolan kelompok yang akhirnya sunyi karena orang kembali ke kerja. Shen Yi tidak menambahkan ruang istirahat ke dalam daftar itu. Lu Shen juga tidak. Sendoknya beradu sekali dengan tatakan, lalu ia meletakkannya.
Shen Yi bertanya apakah ia boleh memegang pergelangan tangan Lu Shen di atas meja, tempat cahaya siang membuatnya terlihat. Lu Shen ingin pergelangan itu dipegang. Ibu jarinya hangat. Shen Yi memegang, lalu berkata jeda, dan melepaskan. Lu Shen menunggu, tangannya tetap di tempatnya, tidak mengejar. Shen Yi ingin merasakan jeda itu di siang hari, dengan jendela dan bukan dengan lampu dinding. Mereka boleh berpegangan lagi. Lu Shen ingin pegangan itu, dan ia mengatakannya tanpa menambahkan syarat.
Mereka berjalan di sisi yang sama menuju stasiun, tidak bergandengan, kecuali pergelangan yang tadi sempat dipegang dan sudah dilepas. Lampu toko yang belum menyala memantul di kaca. Shen Yi berkata ia suka hari kerja karena orang di sekitar punya tujuan sendiri dan tidak mencari cerita. Lu Shen mengangguk. Kafe yang terang lebih jujur daripada ruangan yang ditinggalkan seorang teman.
Shen Yi melihat jam di dinding perempatan dan ingin berjalan sampai palang, tidak lebih jauh kecuali ia berkata lain. Berjalan adalah sisa pertemuan, bukan alasan untuk memesan cangkir kedua. Trotoarnya ramai dengan orang yang pulang kerja. Di palang stasiun ia berdiri dan tidak masuk. Cukup di sini, katanya. Angin dari terowongan terasa di pergelangan yang tadi dipegang. Lu Shen tidak mengikutinya melewati palang. Batasnya jelas, dan ia tidak meminta satu langkah lagi. Lain kali, jika ada lain kali, Lu Shen bertanya lagi dan Shen Yi bertanya lagi. Tidak ada yang menuliskan yang lain ke dalam upacara yang sudah selesai. Dua orang dewasa bisa meninggalkan kafe seperti mereka meninggalkan tepi jalan: bersedia, dan mampu mengakhiri.
Di peron, setelah pintu kereta tertutup, Shen Yi mengirim satu kalimat. Hari kerja ini sudah cukup. Jangan menambahkan ruang istirahat ke dalamnya. Lu Shen menjawab bahwa ia tidak akan menambahkannya. Ia bisa membiarkan akhir yang jelas tetap di tempatnya. Shen Yi tidak berutang peta pada obrolan. Jika ia ingin kafe lain, ia akan bertanya, dan Shen Yi boleh berkata tidak. Shen Yi membacanya dua kali. Layar meredup di tangannya. Kereta bergerak, dan lampu peron tertinggal di belakang kaca. Keinginan punya meja, jalan, dan akhir, dan ketiganya sudah disebut.
- Pustaka lengkap
- Bintang Gu Wan: apartemen pinjaman setelah malam di lokasi
- Pemeran utama musikal: malam penutupan, lampu di ruang ganti
- Streamer Lin Wanwan: ponsel ditelungkupkan setelah live
- Pramugari Su Qing: di layover dia menutup gorden sendiri
- Direktur desain Zhou Ningning: tujuh menit pintu terkunci
- Kreator gym Song Qi: setelah tutup, hanya dia dan tunangannya
- Eksekutif emiten: setelah gala, dua rekan sebaya dan teh
- Foto hotel | Setelah lembur dia bilang, “Jangan tanya aku pulang.”
- Lampu ruang tamu masih nyala. Tetangga terus mengetuk.
- Pertama kali pasang kamera sendiri, dia tertawa ke bantal.
- Gaun merah | Suaminya merokok di seberang meja
- Cermin berkabut. Dia usap sebentar lalu melihatmu.
- Spa lembur, satu lampu. Lencana dilempar ke samping.
- Catatan janji | Cincin masuk tas sebelum pintu
- Jari di bibirku: jangan bersuara.
Jelajahi drama pendek AI
Temukan drama pendek AI dan pratinjau yang sudah tersedia di Huangguo Drama. Pilih genre dan tonton di browser. 18+.
Huangguo Drama · Jelajahi video →