Pemeran utama musikal: malam penutupan, lampu di ruang ganti

【Fiksi. Semua tokoh dewasa.】

Qiao An berumur tiga puluh, pemeran utama sebuah musikal. Han Che berumur tiga puluh dua. Mereka bersama enam tahun. Pekerjaan Han Che adalah merancang pameran, bukan tata lampu pertunjukan Qiao An. Pada malam penutupan penonton melempar bunga ke panggung. Lampu di ruang ganti lebih hangat daripada panggung, dan lebih kecil.

Setelah kerumunan pergi, sebuah tulisan berkata Qiao An tidak segera meninggalkan gedung pertunjukan. Seseorang mengubah waktu tunggu menjadi rahasia. Qiao An melihat kalimat-kalimat itu saat riasannya masih ada. Ia tidak membetulkan jumlah menit. Orang yang menunggu ada di pintu, dan orang itu punya nama.

Han Che masuk lebih dulu dan meletakkan teko teh hangat di meja rias. Ia berkata ia bisa menunggu di koridor sampai Qiao An selesai, atau ia bisa pulang. Kamu tidak berutang malam padaku hanya karena aku berdiri di sini dengan bunga.

Qiao An berkata, aku tidak berutang. Aku ingin kamu tinggal. Kamu bersedia?

Han Che ingin tinggal. Ia bersedia. Enam tahun bersama tidak melewati pertanyaan malam ini. Keduanya sadar penuh, dan teko di meja rias hanya berisi teh. Qiao An berkata, siapa pun boleh berhenti. Jika ia bilang berhenti, Han Che menyerahkan kursi. Jika Han Che terlalu lelah, ia akan mengatakannya. Qiao An tidak harus menebak, dan berhenti tidak dihukum.

Qiao An bertanya, jika setelah riasan lepas ia hanya ingin bersandar di bahu Han Che dan tidak melakukan hal lain, apakah itu boleh. Han Che ingin itu. Bersandar boleh menjadi seluruh malam. Mereka bisa berhenti kapan saja, tanpa penjelasan untuk orang yang sudah meninggalkan gedung.

Qiao An melepas hiasan kepala dan meletakkan setiap bagiannya di atas kain. Logamnya dingin, dan satu manik-manik berdetik pelan. Lampu di cermin adalah lampu yang ia pilih untuk tetap menyala. Aku perlu melihatmu, katanya. Han Che menatapnya dan mengangguk pelan. Aku bersedia. Aku juga ingin memegang tanganmu. Jika kamu tidak ingin itu, tanganku tetap di tepi meja, di samping teko.

Qiao An ingin tangannya dipegang. Sejauh ini sudah cukup. Lebih jauh, nanti, sebagai langkah yang disebut. Han Che memegang tangannya. Jari Qiao An masih ada sisa bedak di buku jari. Hangat teko pindah pelan ke kulit mereka. Qiao An tidak menarik tangan itu. Ia juga tidak mendorongnya lebih dekat dari yang ia sebut.

Dahi mereka bersentuhan dan napas mereka menjadi rata. Qiao An berkata, jeda. Aku perlu mendengar apakah aku masih ingin ini. Han Che melepaskan dahinya dan menunggu. Beberapa detik kemudian Qiao An berkata ia masih ingin dekat. Han Che juga masih ingin. Jika napas berikutnya mengubah pikiran Qiao An, mereka tetap bisa duduk diam. Diam bukan undangan baru.

Bangku rias adalah tempat yang buruk untuk menceritakan semuanya, dan mereka tidak menceritakannya untuk orang yang meninggalkan gedung. Lampu tetap menyala. Pintu ditutup dari dalam karena orang yang melepas riasan butuh tenang, bukan karena sebuah adegan diserahkan pada orang yang lewat. Di lorong, langkah terakhir menjauh. Sesudah itu hanya kipas kecil di sudut.

Keesokan hari seseorang meneruskan tulisan itu ke obrolan rombongan. Qiao An mengetik satu titik, menghapusnya, dan tidak mengirim apa pun. Layarnya kembali ke jadwal yang sudah selesai. Han Che bertanya apakah ia harus berbicara. Qiao An berkata jika ia berbicara, seseorang akan meminta mereka membuktikan keheningan. Keheningan tidak butuh bukti. Teh yang sudah dingin di teko lebih jujur daripada paragraf yang ditambahkan orang lain.

Bunga di belakang panggung agak lembap. Qiao An memasukkan satu tangkai ke botol air dan membiarkan sisanya untuk diatur besok pagi. Tangkai yang ia pilih menetes sekali di meja. Han Che tidak membantunya memilih. Ia berkata bunga milik penonton, teh milik teko yang ia bawa, dan orangnya milik dirinya sendiri. Menunggu semalaman di luar sayap panggung bukan tiket yang bisa ditukar dengan malam. Qiao An berdiri semalaman di atas panggung. Keduanya lelah dengan cara yang berbeda, dan lelah itu tidak menjadi hutang.

Qiao An melepas satu anting dan berkata ia tahu. Karena itulah pertanyaannya terasa canggung, dan ia tetap ingin mengucapkannya sekali. Kamu tinggal karena enam tahun, atau karena malam ini? Han Che berkata karena malam ini, dan karena enam tahun mengajarnya untuk bertanya. Jika hanya ada enam tahun dan tidak ada pertanyaan di ruang ganti, ia seharusnya pulang dengan bunganya. Qiao An menjawab dengan rinci. Aku ingin kamu ada di sini malam ini. Aku juga ingin kamu duduk di samping bangku ini. Yang lebih dekat menunggu sampai anting yang lain lepas.

Han Che memang menunggu. Anting kedua mengeluarkan suara kecil di baki. Qiao An berkata mereka boleh berpegangan tangan sekarang. Sesudah itu, jika ia ingin menyembunyikan wajah di lengan Han Che dan melamun, Han Che membiarkannya melamun. Jangan mengubah lamunan menjadi hal lain. Han Che setuju. Melamun itu baik. Jika Qiao An menengadah dan menyebut langkah berikutnya, ia akan mendengarnya sebagai langkah baru. Jika Qiao An berkata cukup, ia menyerahkan teh dan mereka memanggil tumpangan.

Qiao An melamun sebentar. Bahunya naik turun. Lalu ia menengadah. Mereka boleh lanjut sampai pelukan, dan setelah pelukan mereka selesai untuk ruang ganti. Han Che ingin pelukan itu. Selama pelukan tangannya tetap di punggung Qiao An, tidak lebih rendah dan tidak lebih jauh. Ia tidak meminta yang lain, karena Qiao An sudah menamai batasnya. Ketika mereka melepaskan, Qiao An tersenyum. Kata yang mereka sepakati patuh. Han Che berkata memang seharusnya patuh. Jika tidak, tidak akan ada lampu berikutnya setelah hormat berikutnya.

Lampu gedung padam berderet. Ketika mereka keluar lewat pintu samping, orang dari penonton masih ada di jalan, memegang lembar acara yang dilipat. Tidak ada yang perlu tahu tangkai mana yang masuk ke botol. Yang perlu tahu hanya mereka berdua: keduanya dewasa, keduanya sudah bertanya, dan siapa pun masih boleh mengakhiri malam tanpa pidato.

Angin di pintu samping menipiskan bau kostum. Qiao An merapikan tangkai di botol dan berkata ia tidak ingin orang yang pulang dari pertunjukan mengira ruang ganti masih menyimpan adegan lain. Han Che berkata kalau begitu tidak ada. Mereka dua orang yang kerjanya sudah selesai. Sambutan penutup sudah lewat. Mereka tidak berutang hormat lagi pada jalan, dan poster di tembok boleh bergerak sendiri.

Qiao An bertanya apakah Han Che keberatan jika ia berjalan sendiri di sudut. Han Che tidak keberatan. Berjalan sendiri adalah cara mengakhiri malam, dan ia bisa menunggu di sisi ini untuk tumpangannya sendiri. Qiao An tidak harus menjelaskan mengapa ia ingin sendiri. Qiao An berkata ia akan berjalan sendiri. Bukan karena Han Che buruk. Karena ia ingin menghentikan malam di tempat yang ringan, dengan lampu jalan dan bukan dengan lampu rias.

Lampu di sudut berganti. Qiao An menyeberang. Han Che tetap di tempat yang mereka sepakati. Keduanya menoleh sekali, bukan sebagai permainan berlama-lama, tetapi untuk melihat yang lain masih di situ. Poster musikal bergerak kena angin. Orang di poster adalah tokoh. Orang di sudut adalah mereka sendiri. Han Che bertanya, pelan, tentang malam lain. Qiao An berkata, jika kamu masih bersedia, datanglah. Bertanya padaku di pintu. Aku akan bertanya padamu. Lampu ruang ganti sudah padam di belakang mereka, dan malam penutupan tidak berutang sekuel pada jalan.

Bagian dua

Undangan dari sudut menjadi ketukan di pintu rumah Qiao An sendiri. Enam tahun itu tidak mereka bawa sebagai tiket. Pekerjaan Han Che merancang pameran. Harinya tidak diambil dari daftar panggilan Qiao An. Hormat sudah selesai. Lampu ruang ganti tidak ada di ruangan ini. Lampu yang lebih kecil menyala di dapurnya, karena ia yang memilihnya. Ketukannya dua kali, tidak panjang.

Qiao An membuka pintu dan tidak menarik Han Che masuk. Tanya aku, katanya. Han Che bertanya apakah Qiao An masih ingin ia masuk. Qiao An ingin ia masuk, dan ia mengatakannya di pintu. Han Che juga ingin masuk. Enam tahun tidak melewati pertanyaan di keset. Ia juga bisa pulang dari keset ini, dengan sepatu masih di kaki, jika malam berubah.

Qiao An berkata keset adalah tempat yang baik untuk menjadi jelas. Masuk. Sepatu dilepas. Dapur lebih dulu. Han Che mengikuti. Lantai kayu dingin di kaus kakinya. Qiao An menuang teh yang Han Che sukai, yang sama dengan teko di ruang ganti, dan bertanya apakah tangan Han Che boleh memegang tangannya di meja. Han Che ingin memegangnya. Qiao An berkata sejauh ini cukup sampai ia berkata lain. Han Che menunggu. Ketika Qiao An berkata mereka boleh berpelukan, Han Che bertanya sekali, karena pelukan adalah langkah baru di rumah, bukan sisa ruang ganti. Qiao An ingin itu. Selama pelukan tangan Han Che tetap di punggungnya. Qiao An berkata jeda, dan Han Che melepaskan. Kata itu patuh di dapur yang lampunya kecil, dan itulah yang ingin Qiao An ketahui di rumahnya sendiri.

Mereka tidak menceritakan keheningan untuk orang yang meninggalkan gedung. Tidak ada gedung pertunjukan di sini. Qiao An berkata, jika nanti ia hanya ingin duduk diam dan memejamkan mata sebentar, itu istirahat dan bukan jawaban berikutnya. Han Che tidak akan menganggapnya undangan. Qiao An bertanya di mana Han Che ingin berada jika ia tinggal. Han Che tidak akan memilih kamar Qiao An kecuali Qiao An menawarkannya sebagai keinginan Qiao An sendiri. Qiao An ingin Han Che di sofa, dengan selimut, dan ia ingin kamar itu untuk dirinya. Han Che ingin malam yang seperti itu. Malam itu utuh. Qiao An berumur tiga puluh. Ia bisa menamai batas tanpa harus menukarnya dengan pelukan yang lebih panjang.

Qiao An meredupkan lampu dapur, tidak mematikannya, supaya lorong tetap terbaca. Di sofa ia bertanya apakah ciuman selamat malam adalah sesuatu yang Han Che inginkan. Han Che menginginkannya. Ciuman itu singkat. Qiao An tersenyum dan berkata cukup. Han Che berkata ia akan ada jika Qiao An butuh air, dan ia tidak akan mengarang alasan untuk menyeberangi lorong. Qiao An berkata, baik. Poster di dinding adalah tokoh. Orang di dapur adalah dirinya. Keduanya sudah mengatakan apa yang mereka inginkan.

Setelah selimut terpasang, Qiao An memastikan sofa tidak menjadi langkah berikutnya yang tidak diucapkan. Kamu bersedia tinggal di sofa ini dan tidak menyeberang? Han Che bersedia. Kamar itu milik Qiao An. Ia tidak harus ditukar dengan ciuman. Qiao An berkata kalau begitu malam ini berakhir di sini. Jika nanti ia hanya ingin memejamkan mata, Han Che jangan menyeberangi lorong untuk menyelesaikan alur. Memejamkan mata bukan ya yang berikutnya. Duduk diam juga bukan. Lampu kecil tetap menyala. Ia menunjukkan dua orang yang bertanya, bukan tokoh di poster.

Jelajahi drama pendek AI

Temukan drama pendek AI dan pratinjau yang sudah tersedia di Huangguo Drama. Pilih genre dan tonton di browser. 18+.

Huangguo Drama · Jelajahi video →